PA GMNI Jember Serukan Nasionalisme Berbasis Keadilan, Bukan Sekadar Kenangan Sejarah

Reporter : Rusdi
Pelantikan Pengurus DPC PA GMNI Jember dan Sarasehan Nasional PA GMNI Jember, Sabtu (7/11/2026). Foto: GMnI

JEMBER (Realita) – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jember menyerukan agar nasionalisme tidak hanya menjadi romantisme sejarah perjuangan kemerdekaan. Semangat kebangsaan harus diwujudkan melalui perjuangan nyata untuk menghadirkan keadilan sosial, kemandirian ekonomi, dan kehidupan berbangsa yang beradab.

Pesan tersebut ditegaskan Ketua DPC PA GMNI Jember, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., dalam orasi kebangsaan bertajuk Membangun Keadaban Bangsa Menuju Cita-Cita Trisakti, pada pelantikan Pengurus DPC PA GMNI Jember dan Sarasehan Nasional PA GMNI Jember, Sabtu (7/11/2026).

Baca juga: PA GMNI Soroti Demokrasi Indonesia yang Dinilai Makin Jauh dari Kesejahteraan Rakyat

Menurut Fendi, 81 tahun kemerdekaan Indonesia harus menjadi momentum refleksi untuk mengukur sejauh mana kemerdekaan telah membawa kesejahteraan bagi rakyat. Sebab, kemerdekaan politik yang telah diraih bangsa Indonesia belum cukup apabila masyarakat masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan.

“Indonesia tidak cukup hanya merdeka. Indonesia harus berdaulat, harus bermartabat, berkeadilan, dan berkeadaban,” tegasnya.

Ia menilai, tantangan bangsa saat ini bukan hanya persoalan pembangunan ekonomi dan penguasaan teknologi, tetapi juga menyangkut kemerosotan nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi digital, dan pembangunan ekonomi, menurutnya, tidak otomatis menjamin meningkatnya kualitas moral bangsa. Demokrasi bahkan berisiko kehilangan substansi ketika kekuasaan lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat.

Begitu pula hukum yang kehilangan kewibawaannya ketika keadilan tidak dirasakan secara setara. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam membangun keadaban bangsa.

Fendi menegaskan, keadaban tidak sekadar diukur dari kesantunan dalam berbicara. Lebih dari itu, keadaban merupakan cerminan kualitas moral, etika, dan tanggung jawab dalam menggunakan kekuasaan, menjalankan hukum, mengelola ekonomi, serta memperlakukan sesama manusia.

“Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghormati martabat manusia. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menjadikan hukum sebagai instrumen keadilan, bukan alat kepentingan kekuasaan,” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Fendi kembali menempatkan Trisakti Bung Karno sebagai landasan perjuangan kebangsaan. Tiga prinsip utama Trisakti, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, dinilai harus menjadi pedoman nyata dalam pembangunan nasional.

Baca juga: Ketua DPP PA GMNI Sebut Penyadapan untuk Kepentingan Asing Bisa Masuk Kategori Makar

Kedaulatan politik, kata dia, harus diwujudkan melalui demokrasi yang konstitusional, transparan, dan bertanggung jawab. Sementara kemandirian ekonomi harus memastikan kekayaan nasional dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945.

Adapun kepribadian dalam kebudayaan harus tercermin melalui penguatan nilai gotong royong, toleransi, solidaritas, musyawarah, serta penghormatan terhadap keberagaman.

Ia juga mengingatkan alumni GMNI agar tidak sekadar menjadikan pemikiran Bung Karno sebagai kutipan dalam pidato atau romantisme perjuangan masa lalu. Pemikiran tersebut harus terus dikembangkan dan diterjemahkan untuk menjawab persoalan bangsa saat ini.

“Marhaenisme harus terus dikembangkan sebagai perspektif perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, eksploitasi, ketimpangan, dan ketidakadilan,” ujarnya.

Fendi menekankan, kualitas nasionalisme seseorang tidak diukur dari seberapa lantang meneriakkan kata merdeka. Ukuran sesungguhnya adalah seberapa besar pengabdian dan kontribusinya dalam membebaskan rakyat dari berbagai bentuk ketidakadilan.

Baca juga: GMNI Lamongan Resmi Dilantik, Aksara Kalijaga Serukan Persatuan dan Perjuangan Kerakyatan

Karena itu, ia mendorong alumni GMNI yang tersebar di berbagai sektor untuk mengambil peran konkret. Alumni yang berada di pemerintahan harus menjadi teladan dalam menjalankan kekuasaan yang bersih. Mereka yang bergerak di bidang hukum harus memperjuangkan keadilan, sedangkan yang berada di perguruan tinggi harus mengembangkan ilmu pengetahuan yang membebaskan masyarakat.

Sementara alumni yang berkecimpung dalam dunia usaha diharapkan mampu membangun ekonomi produktif dan berkeadilan sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Menutup orasinya, Fendi mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya keluarga besar PA GMNI, untuk tidak membiarkan nasionalisme dan Trisakti berhenti sebagai warisan pemikiran maupun slogan perjuangan.

“Jangan biarkan nasionalisme hanya menjadi kenangan sejarah. Jadikan nasionalisme sebagai kekuatan perubahan. Jangan biarkan Trisakti hanya menjadi slogan perjuangan. Jadikan Trisakti sebagai pedoman tindakan dan arah pembangunan bangsa,” pungkasnya.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru