Cegah Perang Sarung, Pemkot Surabaya Bersama TNI-Polri Intensifkan Patroli Selama Ramadan

SURABAYA (Realita)- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya menekan aksi perang sarung yang marak terjadi di kalangan anak-anak selama bulan Ramadan. Berkolaborasi dengan TNI dan Polri, Pemkot Surabaya mengintensifkan patroli dan razia guna mencegah aksi tersebut yang kerap berujung pada tawuran.

"Patroli ini dilakukan setiap hari bersama teman-teman dari Kepolisian, TNI, dan Satpol PP," ujar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Jumat (7/3/2025).

Selain patroli, Pemkot Surabaya melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) juga melakukan sosialisasi di tingkat RW. Program ini bertujuan untuk menanamkan nilai toleransi, kebangsaan, serta menghapus kebiasaan perang sarung dan aksi geng motor.

"Bakesbangpol turun ke RW untuk menanamkan pemahaman tentang toleransi dan kebangsaan, serta menghilangkan perang sarung dan geng motor," jelas Eri.

Partisipasi Masyarakat Diperlukan
Meski razia dilakukan secara rutin, Wali Kota Eri mengakui bahwa aksi perang sarung masih terus terjadi, bahkan setelah petugas selesai berpatroli. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa keterlibatan masyarakat, khususnya orang tua, sangat diperlukan untuk menekan aksi tersebut.

"Kalau hanya mengandalkan TNI, Polri, dan pemerintah, itu tidak cukup. Partisipasi masyarakat sangat penting. Jika warga tidak ikut menjaga, jangan berharap kota ini bisa berkembang dan bahagia," tegasnya.

Ia meminta orang tua lebih mengawasi anak-anak mereka, terutama di waktu dini hari sebelum sahur.

"Kalau belum waktunya sahur, anak-anak sebaiknya tidak diperbolehkan keluar rumah. Ini cara sederhana tapi efektif untuk mencegah perang sarung," imbuhnya.

Untuk memberikan efek jera tanpa merusak mental anak-anak, Pemkot Surabaya menerapkan sanksi edukatif bagi mereka yang tertangkap terlibat dalam perang sarung. Salah satu bentuk sanksinya adalah membantu merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos).

"Sanksinya nanti dibawa ke Liponsos untuk memandikan ODGJ dan membersihkan kamar mereka. Ini agar mereka belajar empati dan memahami bahwa ada orang-orang yang lebih kurang beruntung," jelas Eri.

Selain itu, Pemkot juga menerapkan sanksi berupa kunjungan ke makam untuk memberikan refleksi diri kepada anak-anak tersebut.

"Kami bawa mereka ke kuburan agar mereka bisa merenung. Ini untuk menyadarkan mereka bahwa hidup itu berharga. Jika orang tua mereka meninggal, siapa yang akan merawat mereka?" katanya.

Eri menegaskan bahwa pendekatan ini bukanlah hukuman keras, melainkan cara untuk menyadarkan anak-anak agar tidak mengulangi perbuatannya.

"Kalau mereka hanya dimarahi atau dihukum dengan cara keras, itu tidak efektif. Pendekatan yang kami lakukan adalah menyentuh hati mereka agar bisa berubah," pungkasnya.

Dengan upaya ini, Pemkot Surabaya berharap aksi perang sarung dapat berkurang, dan anak-anak lebih fokus menjalani ibadah Ramadan dengan kegiatan yang lebih positif.yudhi

Editor : Redaksi

Berita Terbaru