LAMONGAN (Realita) - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lamongan dinilai belum memberikan dampak positif bagi peningkatan penghasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Merah Putih
Pasalnya, sejak dimulai pada awal Januari 2025 lalu, ketersediaan bahan pangan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih banyak didistribusikan para pelaku usaha dari luar.
Seperti dikatakan Ketua Koperasi Merah Putih, Desa Surabayan, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Akhmad Farikh Firmansyah, yang menjelaskan hal tersebut pernah disampaikan kepada Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Makan Bergizi Gratis. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan.
"Padahal saya juga sudah membuat surat pengajuan ke SPPI, tapi belum ada tindaklanjut," kata Ahmad Farikh, kepada realita.co, Selasa (16/9).
"Kalau secara keseluruhan (SPPG) saya kurang tau betul, siapa yang menghandle bahan-bahan MBG itu. Akan tetapi harapan kami, BUMDes atau Koperasi Merah Putih di wilayah terkait harus dilibatkan. Biar sama-sama jalan sesuai dari arahan atasan (pemerintah)," lanjutnya.
Untuk diketahui, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lamongan, dimulai sejak tanggal 6 Januari 2025 dengan menyasar 3.500 siswa tingkat TK hingga SMA. Bahkan telah diperluas untuk mencakup lebih banyak lembaga pendidikan serta ibu hamil dan menyusui.
Program yang digagas oleh Badan Gizi Nasional (BGN) itu dilakukan secara bertahap melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan dapur-dapur umum. Bahkan jumlah dapur di Kabupaten Lamongan terus berkembang, hingga tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, dengan target sebanyak 111 dapur MBG.
Sedangkan kriteria untuk menjadi supllier atau pelaku usaha bahan pangan yang menyediakan dan mendistribusikan makanan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), meliputi status usaha aktif yang siap menyuplai dalam partai besar, konsisten, dan tepat waktu dengan produk berkualitas, serta memiliki visi dan misi yang sejalan dengan BGN. Adapun bahan baku yang disediakan meliputii sayur, buah, daging, dan ikan.
Lebih jauh, program itu juga diharapkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan melibatkan petani, nelayan, peternak, dan UMKM, serta menciptakan lapangan kerja.
Reporter : Defit Budiamsyah
Editor : Redaksi