JAKARTA (Realita)- Menanggapi pernyataan Luhut Binsar Panjaitan (LBP) yang menyatakan ‘apa sih ijazah itu, nggak penting’, Direktur Politic and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie dengan tegas menyerukan untuk membubarkan saja kampus-kampus dan sekolah di Indonesia.
“Bubarkan saja kampus-kampus di Indonesia kalau ijazah sudah tak penting. Bubarkan saja sekolah Luhut di Sumatera Utara. Perkataan ini sangat menyakiti kaum akademisi. Saya tak yakin LBP ini sekolah yang benar, dia anti pendidikan, gara-gara membela mantan bosnya, Jokowi,” kata Jerry pada awak media, Senin (12/10/2026).
Ia menilai, pernyataan LBP ini sangat berbahaya bagi dunia pendidikan Indonesia, layaknya racun yang akan mempengaruhi eksistensi pendidikan Indonesia.
“Memangnya apa kontribusi Gibran dan Jokowi untuk negara ini? Menggadaikan negeri ini, menjual natural resources arau sumber daya alam, membuat Indonesia miskin? Di era Jokowi, korupsi ditaksir mencapai Rp3000 triliun dan hutang tembus Rp8.500 triliun, menjual pasir, laut sampai IKN ke asing. Apa ini kontribusi?,” tegas Jerry.
Jerry menyatakan sosok yang akrab dipanggil Opung ini memang kerap banyak bicara tanpa berpikir. Ia pun menilai, seharusnya publik mulai menyoroti dan mengaudit aset LBP, yang diakuinya senilai Rp1.9 triliun.
“Pernyataan Luhut ini, bagaikan dia tak sekolah dan tak punya ijasah SMA. Bagi saya Luhut ini bapak perusak pendidikan Indonesia. Menyebutkan ijazah tak penting, artinya secara filosofis tak perlu sekolah biar kita bodoh dan buta huruf. Saya pikir sudah tua sudah bertobat, ternyata belum,” tegasnya.
Ia menyatakan, seharusnya para pejabat negeri ini bisa lebih bijaksana dalam berucap maupun bertindak. Mengingat, setiap ucapan pejabat atau tokoh akan menimbulkan kegaduhan publik, pro dan kontra, serta perdebatan yang tak berfaedah.
“Harusnya dia medorong anak muda untuk sekolah setinggi mungkin untuk menggapai cita-cita. Mengajak para generasi muda untuk mengedepankan inovasi, mengembangkan pemikiran-pemikiran brilian berbasis kajian ilmiah, membangun logika berfikir. Bukannya malah merendahkan perjuangan anak-anak muda dalam menjalani pendidikan,” pungkasnya.jr
Editor : Redaksi