KABUPATEN BLITAR (Realita)- Senin (5 Agustus 2024), berada di Desa Sumberjo Kabupaten Blitar, tepatnya di Jalan Kresno Widodo.17 Kecamatan Sutojayan, terlihat kearifan lokal warisan budaya leluhur Jawa yang masih terpelihara dengan harmoni. Demikian dijelaskan Mas Eko, salah satu tamu yang datang.
Salah satu paguyupan yang terdaftar di Kesbangpol kabupaten Blitar itu bermanfaat dan turut menjaga nilai-nilai leluhur nenek moyang.
Baca juga: Grebeg Suro 2025, Bupati Ponorogo: Momentum Memperkokoh Mataraman
Nampak hiasan janur melengkung simbol sejatinya nur (cahaya) petunjuk buat semesta, terang mbah Wahyu, dalam kenduri cinta bersama tamu-tamunya.
Ada malam tutup bulan Suro jam 19.00 wib- 24.00 wib yang dihadiri dari Jakarta, hadir dari Lamongan, hadir dari Surabaya, lengkap datang dari penjuru alam semesta, Rahayu Sagung Dumadi para tamu.
Baca juga: Kirab 8 Buceng Porak Keliling Ngebel, Bupati Ponorogo: Bagikan Spirit Positif
Banyak pelajaran, lelaku hikmah yang kita ambil dari budaya ini.
Ruang Damai tanpa nama tercipta sebagai pesan moral rasa damai dan cahaya rahmatan lil Alamin menjadi lelaku para tamu-tamu yang datang.
Baca juga: Suro di Madiun Jadi Atensi Khusus, Perguruan Silat Diimbau Patuh Aturan
Dari dekat team Realita co melihat adanya ornamen Gunungan Buah-buahan, Ornamen Gunungan, Peralatan dapur sebagai simbolik adanya unsur kehidupan (hayat) mulai dari kita lahir dan akan kembali.
Orang-orang di ruang tanpa nama ini membaur dalam damai kasih mbangun Kahyangan (simbol kedamaian)yang harus dijalani dalam kehidupan sehari hari jelas Mbah Wahyu dalam cengkrama kenduri cinta bersama tamu. Fendy
Editor : Redaksi