Peringati Hari Lahir Pancasila, Kades Junrejo Soroti Pergeseran Makna Sila Keempat

BATU (Realita)- Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 dimaknai secara khusus oleh Kepala Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Andi Faizal Hasan. Dalam refleksinya, ia menyoroti adanya pergeseran makna pada sila keempat Pancasila yang menurutnya mulai menjauh dari nilai-nilai yang terkandung saat dasar negara tersebut dilahirkan.

 

Menurut Andi, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak seharusnya hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial seperti pemasangan bendera atau upacara semata. Lebih dari itu, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap sila harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 

“Lima sila dalam Pancasila harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata sebagai warga negara. Jangan hanya menjadi wacana, tetapi harus dibuktikan dalam tindakan sehari-hari, mulai dari sila pertama hingga sila kelima,” ujar Andi Faizal Hasan, Senin (1/6/2026).

 

Ia menjelaskan, sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung makna penghormatan terhadap keyakinan setiap warga negara. Karena itu, tidak boleh ada pemaksaan kehendak maupun keyakinan kepada orang lain.

 

“Saya yakin seluruh warga negara Indonesia memiliki keyakinan masing-masing. Karena itu, kita harus menghormati perbedaan dan tidak memaksakan kehendak kepada sesama,” katanya.

 

Pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Andi menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan adab dalam kehidupan sosial. Sementara sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengajarkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, termasuk oleh para pemangku kebijakan di pemerintahan.

 

Namun demikian, perhatian khusus diberikan Andi terhadap sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Menurutnya, penerapan nilai musyawarah dalam kehidupan demokrasi saat ini mulai mengalami pergeseran.

 

“Untuk sila keempat, saya melihat saat ini mulai terjadi pergeseran dengan dalih demokrasi. Nilai musyawarah yang menjadi ruh dari sila tersebut dalam menentukan kepemimpinan sudah tidak sepenuhnya sesuai dengan makna yang terkandung di dalamnya,” ungkapnya.

 

Sedangkan pada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Andi menilai pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan pemerataan keadilan bagi seluruh masyarakat, baik dalam pembangunan, kebijakan, maupun pelayanan publik dari Sabang hingga Merauke.

 

“Keberhasilan sila kelima terletak pada kesungguhan pemerintah dalam menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa membedakan wilayah maupun golongan,” pungkasnya. Andi Faizal Hasan. (Ton)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru