Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Amerika Serikat Panik

realita.co
Selat Hormuz yang akan ditutup Iran. Foto: Gmap

TEHERAN (Realita) - Iran secara terbuka mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak dan gas paling strategis di dunia.

Langkah tersebut diambil sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklirnya di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Ancaman ini langsung menggetarkan jantung pemerintahan Washington.

Baca juga: Trump Tidak Ingin Melanjutkan Serangan, Fokus Ingin Damai Dengan Iran

Ketakutan pun mulai merambat ke pasar energi global. Amerika Serikat panik!

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam wawancara eksklusif di program Face the Nation pada Minggu (22/6) kemarin menyebut rencana Iran tersebut sebagai langkah yang bisa "menghancurkan dunia dan diri mereka sendiri."

“Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, itu adalah tindakan bunuh diri. Langkah seperti itu akan memicu kemarahan global, bukan hanya dari kami, tetapi juga dari banyak negara kuat yang sangat bergantung pada jalur itu," ungkap Rubio.

Rubio secara khusus juga menyinggung Tiongkok, negara yang merupakan salah satu importir minyak terbesar dunia, sebagai pihak yang bakal paling terpukul.

“Kalau mereka menutupnya, negara pertama yang akan sangat marah adalah pemerintah Tiongkok, karena sebagian besar minyak mereka melewati selat itu,” kata Rubio.

Baca juga: Jika Perang Dunia ke-3 Terjadi, Indonesia Masuk Kategori Negara Teraman di Dunia

Ia menambahkan bahwa jika Iran menggunakan taktik menebar ranjau laut, yakni menempatkan bahan peledak di jalur pelayaran untuk merusak kapal, maka “dunia akan membayar harga yang sangat mahal.”

Rubio tak main-main soal dampaknya. Ia menegaskan bahwa konsekuensinya tak hanya akan dirasakan oleh Amerika, tetapi juga oleh seluruh planet.

“Ini akan memengaruhi kami, ya. Tapi dampaknya jauh lebih besar untuk seluruh dunia. Dunia tidak akan tinggal diam. Jika itu terjadi, saya yakin dunia akan bersatu melawan Iran," ungkap Rubio.

Selat Hormuz, yang lebarnya hanya sekitar 39 kilometer di titik tersempit, setiap harinya menjadi jalur bagi hampir 21 juta barel minyak mentah, setara dengan 20�ri konsumsi minyak global.

Baca juga: Dunia Bereaksi atas Serangan AS ke Situs Nuklir Iran: Sampaikan Kecaman hingga Seruan Damai

Selama puluhan tahun, selat ini menjadi titik vital dalam rantai pasokan energi internasional, dan menjadi pusat perhatian dalam setiap ketegangan di kawasan Teluk Persia.pos

 

 

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru