Iran Mau Gencatan Senjata dengan Israel, dengan Syarat Agresi Zionis Atas Palestina Dihentikan

realita.co
Pembicaraan telepon antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Foto: x Anwar Ibrahim

TEHERAN (Realita) - Di tengah upaya internasional mendorong perdamaian di Timur Tengah, Iran menerima proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS). Namun, bukan tanpa syarat.

Dalam pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, gencatan hanya akan berlaku jika Israel menghentikan agresinya terhadap wilayah Palestina dan Iran.

Baca juga: Empat Warga Lamongan Dievakuasi dari Iran Dipulangkan ke Tanah Air

Pengakuan itu disampaikan langsung oleh Anwar melalui unggahan di media sosial X, Selasa (24/6/2025). Menurut Anwar, Presiden Pezeshkian menjelaskan alasan Iran bersedia menghentikan serangan sebagai bagian dari komitmen terhadap perdamaian yang adil dan bermartabat.

Baca juga: Setelah 12 Hari Saling Serang, Perang Iran vs Israel Resmi Berakhir

"Iran bersedia menghentikan serangan dan menerima perdamaian, dengan syarat Israel menghentikan serangan terhadap wilayah-wilayah kedaulatan Palestin dan Iran," ujar Anwar, mengutip percakapan telepon dengan Presiden Iran.

Palestina Jadi Inti Tuntutan Iran
Pezeshkian, dalam pembicaraan itu, juga meminta bantuan Anwar untuk menyampaikan sikap resmi Iran kepada negara-negara Muslim. Ia menilai penting bagi dunia Islam untuk memahami konteks sebenarnya dari tindakan Iran, termasuk pembalasan terhadap pangkalan militer AS di Qatar.

Baca juga: Usai Gencatan Senjata dengan Iran, Tokoh Oposisi Israel Desak Akhiri Perang di Gaza

Iran menegaskan bahwa serangan-serangan mereka bukanlah bentuk ekspansi atau agresi, melainkan respons atas pelanggaran yang dilakukan Israel dan AS terhadap kedaulatan negara Iran serta rakyat Palestina. Dengan memasukkan isu Palestina dalam klausul gencatan senjata, Iran menunjukkan bahwa perjuangan rakyat Palestina menjadi syarat mutlak dalam proses perdamaian.new

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru