Sebut Ladang Pembantaian, Tentara Israel Akui Sengaja Bunuhi Warga Palestina yang Cari Bantuan

Reporter : Redaksi
Warga Palestina membawa karung dan kotak berisi makanan dan bantuan kemanusiaan yang diturunkan dari konvoi Program Pangan Dunia (WFP).

JAKARTA (Realita)- Sebuah laporan mengejutkan dari media Israel, Haaretz, mengungkapkan bahwa sejumlah tentara Israel mengakui telah membunuh warga Palestina tak bersenjata yang menunggu di pusat-pusat distribusi bantuan di Gaza. Mereka mengaku melakukan perbuatan tersebut berdasarkan perintah langsung dari atasan mereka.

Menurut pengakuan para tentara dan perwira militer, mereka diperintahkan untuk melepas tembakan kepada warga Palestina yang mencari makanan di titik pendistribusian bantuan, meskipun mereka tahu bahwa warga tersebut tidak menimbulkan ancaman. Pengakuan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang tindakan militer Israel di Gaza dan perintah yang diberikan kepada tentaranya.

Baca juga: 30 Lebih Warga Gaza Tewas Ditembak saat Cari Bantuan Makanan, Kekejian Israel Berlanjut

Bahkan seorang tentara menggambarkan pusat-pusat distribusi bantuan tersebut sebagai “ladang pembantaian”.

“Di tempat saya ditempatkan, antara satu hingga lima orang terbunuh setiap hari,” ujar tentara tersebut kepada Haaretz, seperti dilansir Middle East Eye, Jumat (27/6/2025).

“Mereka diperlakukan seperti pasukan musuh, tak ada tindakan kontrol kerumunan, tak ada gas air mata. Hanya, peluru tajam dan semua yang tak terbayangkan. Senapan mesin berat, peluncur granat, mortar,” tambahnya.

Israel sempat memblokir semua bantuan dan kebutuhan pokok masuk ke Gaza, nyaris selama tiga bulan yang dimulai dari Maret 2025.

Mereka mendorong dua juta lebih warga Palestina di Gaza hingga mencapai krisis kelaparan yang parah.

Para perwira dan tentara mengatakan mereka akan menembaki orang-orang yang tiba sebelum jam pembukaan pusat bantuan.

Mereka berdalih penembakan dilakukan untuk mencegah warga Palestina mendekati pusat bantuan. Mereka juga melepaskan tembakan untuk memecah kerumunan setelah pusat bantuan ditutup.

Baca juga: Tidak Ada Lagi Tempat Aman di Gaza, 21 Bulan Dibombardir Israel

“Ketika pusat bantuan dibuka, penembakan berhenti, dan mereka (warga Palestina) tahu bisa mendekatinya,” ujar salah seorang tentara Israel.

“Cara bentuk kami berkomunikasi adalah penembakan,” tambahnya.

Tentara itu juga mengatakan pasukan Israel melepaskan tembakan di pagi hari dari jarak ratusan meter, jika seseorang mencoba mengantre.

“Dan terkadang kami menyerang mereka dari jarak dekat, meski tak ada bahaya bagi pasukan,” ujarnya.

“Saya tak mengetahui adanya satu pun kejadian tembakan balasan. Tak ada musuh, tidak ada senjata,” tambah sang tentara.

Baca juga: 580 Bayi Prematur di Gaza Berisiko Meninggal

Di wilayah tempat ia bertugas, operasi tersebut dilaporkan disebut sebagai Operasi Ikan Asin, yang dinamai berdasarkan permainan anak-anak Israel.

Pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 550 warga Palestina yang menunggu untuk mendapatkan bantuan, dan melukai lebih dari 4.000 orang lainnya.

Pengakuan ini juga memicu pertanyaan, apakah perintah tersebut diberikan secara resmi, dan siapa yang bertanggung jawab atas tindakan tersebut?

Unit Advokat Jenderal Militer Israel dilaporkan telah menginstruksikan Mekanisme Penilaian Pencari Fakta Staf Umum Angkatan Darat untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang di lokasi-lokasi distribusi bantuan.rin

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru