Aksi Mahasiswa di Lamongan, Minta SPBU Ganti Kerugian Hingga Turunkan Harga Pertamax

realita.co
Foto : Mahasiswa PMII Unisla Veteran saat unjuk rasa di timur gedung DPRD Lamongan terkait maraknya motor brebet usai isi pertalite. Foto: Defit

LAMONGAN (Realita) - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Islam Lamongan (UNISLA) veteran, menggelar aksi unjuk rasa, Senin (3/11) sore.

Aksi yang digelar di perempatan timur gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lamongan itu terkait maraknya sepeda motor brebet (mesin tersendat) usai mengisi bahan bakar di SPBU.

Baca juga: Bahlil Minta Masyarakat Hemat Gas LPG saat Masak

Dalam tuntutannya, Ketua Komisariat PMII Unisla Veteran, Akh. Hidayatu Ramdhoni, menyampaikan sebanyak 50 lebih sepeda motor brebet yang didiagnosa oleh bengkel dan penyebab utamanya yakni BBM jenis pertalite.

"Masyarakat harus ganti busi dan lain-lain, yang jelas cost perbaikannya tidak murah dan tidak sebanding dengan harga pertalite," kata Hidayatu Ramdhoni, Senin (3/11).

"Hal ini jelas memprihatinkan, dan fakta yang beredar setelah masyarakat direkomendasikan untuk ganti Pertamax sepeda motor mereka pulih kembali. Menurut kami, hal ini bukan menjadi solusi, tapi malah semakin menekan masyarakat," terusnya.

Lebih lanjut, Ramdhoni menjelaskan kebijakan pencampuran ethanol pada bensin pertalite harus dilakukan uji public terlebih dahulu, mengingat bahwa ethanol menyebabkan konsumsi bahan bakar naik, karena kandungan energy ethanol lebih rendah juga dapat menimbulkan kendala teknis lain seperti mesin lambat akibat sifat ethanol yang mudah menyerap air.

Baca juga: Indonesia Tak Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Prabowo Perintahkan Bahlil Cari Minyak Mentah di Negara Lain

"Seharusnya, Disperindag dan Polres Lamongan memberikan infomasi yang mencerahkan, bukan malah memutar balikkan fakta di lapangan. Untuk itu kami PK PMII Unisla Veteran menuntut, yakni pertama, wujudkan kebijakan yang ilmiah dan mengabdi pada masyarakat, kedua, tolak campuran pada bensin pertalite, ketiga, tutup sementara distribusi pertalite pada SPBU sampai kondisi benar-benar normal di Lamongan, keempat, turunkan harga pertamax sebagai ganti rugi di Lamongan, dan kelima, pihak SPBU harus mengganti rugi atas kerugian yang dialami korban maximal 1 x 24 jam," ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Lamongan, M. Freddy Wahyudi, menyatakan dukungan atas tuntutan yang disampaikan mahasiswa pada aksi sore itu. Bahkan ia mengaku kendaraannya turut menjadi korban.

"Saya juga korban mas! Kemarin saya ke Jogja saya ngisi Dexlite juga bercampur dengan air. Saya bawa ke bengkel ternyata ada airnya. Jadi tuntutan yang disampaikan tadi saya setuju semua, saya mendukung dan kalau perlu saya tanda tangani, saya siap," jelas anggota dewan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, saat menemui pengunjuk rasa dengan pengamanan anggota dari Polres Lamongan.

Baca juga: Panic Buying, CBA: Dasco Harusnya Salahkan Bahlil dan Dirut Pertamina 

Mahasiswa yang puas dengan jawaban tersebut, akhirnya membubarkan diri dengan tertib dengan pengawalan kepolisian.

Reporter : Defit Budiamsyah

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru