MAHASISWA Program Studi Agrobisnis Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), melaksanakan praktikum lapang mata kuliah Ekowisata di kawasan Mangrove Pancer Cengkrong dan Pantai Mutiara, Kabupaten Trenggalek, pada Sabtu (25/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis lapangan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pengelolaan ekowisata pesisir yang berkelanjutan berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Praktikum lapang tersebut didampingi oleh tim dosen mata kuliah Ekowisata, yaitu Dr. Erlinda Indrayani, Dr. Mochammad Fattah, dan Rhochmad Wahyu Illahi, MBA. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa memperoleh materi langsung dari kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) yang mengelola kawasan wisata dan konservasi pesisir di Trenggalek.
Di kawasan Mangrove Pancer Cengkrong, mahasiswa mendapatkan pemaparan dari Pokmaswas Kejung Samudra mengenai sejarah rehabilitasi mangrove, keanekaragaman hayati, hingga pengembangan wisata berbasis konservasi. Kawasan tersebut diketahui memiliki sekitar 55 jenis mangrove dan menjadi salah satu kawasan mangrove terluas di Jawa Timur. Upaya pemulihan ekosistem di wilayah tersebut telah dilakukan sejak tahun 2007 dan terus berkembang hingga kini sebagai destinasi edukasi dan wisata lingkungan.
Dr. Erlinda Indrayani menjelaskan bahwa praktikum lapang memberikan pengalaman empiris yang penting bagi mahasiswa dalam memahami pengelolaan sumber daya pesisir secara langsung.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman nyata mengenai bagaimana potensi sumber daya pesisir dapat dikembangkan menjadi destinasi ekowisata yang berkelanjutan,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada mahasiswa adalah program “Manglove”, yakni atraksi wisata berbasis adopsi mangrove yang mulai dikembangkan sejak 2025. Program tersebut memungkinkan wisatawan terlibat langsung dalam kegiatan penanaman dan pelestarian mangrove sebagai bentuk partisipasi lingkungan.
Setelah sesi pemaparan materi, mahasiswa melakukan observasi lapang untuk mengidentifikasi berbagai jenis mangrove yang tumbuh di kawasan tersebut. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman mangrove sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir.
Praktikum lapang selanjutnya dilaksanakan di Pantai Mutiara yang dikelola oleh Pokmaswas Rembeng Raya. Di lokasi ini, mahasiswa melakukan observasi kawasan wisata dan wawancara terhadap wisatawan untuk menggali informasi terkait persepsi pengunjung, motivasi kunjungan, tingkat kepuasan wisatawan, serta potensi pengembangan destinasi wisata pantai.
Baca juga: FPIK UB Perkuat Kolaborasi Global melalui Training and Knowledge Sharing Bersama Akademisi Malaysia
Dr. Mochammad Fattah menegaskan bahwa ekowisata tidak hanya berfokus pada aspek wisata semata, tetapi juga mencakup integrasi antara lingkungan, sosial, ekonomi, dan edukasi masyarakat.
“Melalui praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa ekowisata merupakan kegiatan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan edukasi dalam pengelolaan kawasan pesisir,” jelasnya.
Melalui kegiatan praktikum lapang ini, FPIK UB terus mendorong mahasiswa untuk memiliki kemampuan analisis dan pemahaman komprehensif terkait pengelolaan wisata pesisir berbasis keberlanjutan. Kegiatan tersebut juga sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Laut), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Editor : Redaksi