SURABAYA (Realita)- Musik Grunge yang meledak di era 90-an tetap terjaga eksistensinya di Kota Pahlawan melalui wadah Surabaya Grunge Community (SGC).
Komunitas ini menjadi ruang bagi para musisi untuk terus menjaga semangat kejujuran dalam bermusik sekaligus memastikan ekosistemnya tetap hidup.
Baca juga: SGC Gelar Grunge Boiler Room ke-8, The Planet featuring Bodas Devadata Rilis Single Baru
SGC terbentuk secara organik sejak tahun 1995 tanpa niat awal untuk menjadi organisasi formal. Para musisi dari berbagai band seperti Libido dan Hebola sering bertemu saat tampil di panggung-panggung kampus di Surabaya, mulai dari ITS, UNAIR, hingga Unesa.
Aying, personel Libido Band, mengenang bagaimana kesamaan selera musik menyatukan mereka saat itu. “Awalnya sih kita enggak niat bikin komunitas organisasi apa gitu ya. Jadi saat itu kan tahun 90-an itu lagi jaya-jayanya musik Grunge,” ujar Aying yang memiliki nama asli Ariel Dahrullah ini, saat talk show di program Nusantara Bagus NGOPI! Super Radio 88.5 FM, Sabtu (13/6/2026). .
Setelah lebih dari dua dekade, fokus utama SGC kini bergeser menjadi fasilitator bagi regenerasi musisi baru. Dewa dari band Dancing Doll menekankan bahwa komunitas ini sangat terbuka bagi siapapun yang ingin berkarya tanpa membatasi genre musik tertentu.
“Harapan kami di sini, kami hanya ingin untuk terus membuat musik Grunge di Surabaya ini ya tetap regenerasilah. Regenerasi itu tujuan utama kami,” tegas Dewa.
Keterbukaan ini menjadi daya tarik utama. Band yang ingin bergabung tidak dibebani persyaratan teknis yang rumit. Bahkan, band yang belum memiliki singel orisinal pun tetap dipersilakan untuk tampil dalam kegiatan komunitas.
Tatoc dari Avoida Band menjelaskan betapa inklusifnya wadah yang mereka bangun ini.
“Kalau untuk persyaratannya enggak ada sih. Enggak harus punya singel atau mau rilis singel. Kalau pengin mau gabung ke Surabaya Grunge, monggo bebas,” jelas Tato.
Baca juga: Gigs Grunge Hole Volume 6 Sukses Digeber! Semua Genre Unjuk Gigi, Everyone is Happy
Selain sebagai ajang tampil, SGC juga menjadi tempat bagi anggotanya untuk belajar dan berkembang melalui bimbingan antaranggota. Hal ini dirasakan langsung oleh Fris dari band Kuasar yang mendapatkan banyak masukan teknis dari para senior sejak bergabung di tahun 2021.
“Awalnya ya mulai dari nol. Akhirnya juga lama-kelamaan dikasih referensi terus disuruh, ‘Oh, harus kayak gini vokalnya, jangan kayak gitu terus tenggorokanmu nanti sakit.’ Dikasih coaching gitu,” ungkap Fris menceritakan pengalamannya di komunitas.
Dikutip dari Superradio.id
Editor : Redaksi