JAKARTA- Pembelian sekitar 188,24 juta lembar saham PT Panca Mitra Multiperdana Tbk senilai kurang lebih Rp92,2 miliar oleh perusahaan yang dikaitkan dengan Kaesang Pangarep kembali menjadi sorotan.
Ekonom Ichsanuddin Noorsy dan akademisi Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun mempertanyakan asal modal serta akses pendanaan yang dimiliki Kaesang ketika ayahnya, Joko Widodo, masih menjabat sebagai presiden.
Ubedilah mengatakan penelusurannya pada 2021 hingga 2022 berawal dari transaksi tersebut. Nilainya dinilai mencolok karena Kaesang ketika itu masih berusia sekitar 26 tahun dan dikenal sedang merintis sejumlah usaha, terutama di sektor kuliner.
“Eskalasinya yang begitu cepat, itu yang kemudian kita tanda tanya. Kenapa kita bertanya? Karena dia adalah anak presiden,” kata Ubedilah.
Menurut Ubedilah, menjadi anak presiden bukanlah kesalahan. Namun, posisi tersebut membuat sumber modal dan akses bisnis dalam transaksi bernilai puluhan miliar rupiah menjadi penting untuk dijelaskan kepada publik.
Ia juga menyoroti pendanaan dari perusahaan modal ventura yang nilainya disebut hampir setara dengan pembelian saham tersebut. Ubedilah mempertanyakan apakah dana investasi yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan perusahaan penerima dapat dipakai membeli saham perusahaan lain.
“Pertanyaan kritisnya di situ, apakah mungkin jika Kaesang bukan anak presiden, dia mendapatkan suntikan dana hampir Rp100 miliar?” ujarnya.
Ichsanuddin Noorsy menyebut transaksi dilakukan melalui PT Harapan Bangsa Kita. Ia menilai persoalan utama bukan hanya kepemilikan saham, tetapi juga proses terbentuknya kepercayaan bisnis, hubungan dengan pihak-pihak yang terkait korporasi besar, dan akses terhadap pendanaan dalam jumlah besar.
“Pertanyaan besarnya, bagaimana mungkin sehebat itu mendapat kepercayaan Rp92 miliar? Lalu bagaimana relasinya?” kata Noorsy.
Meski mempertanyakan transaksi tersebut, Noorsy tidak menyampaikan bukti bahwa posisi Jokowi sebagai presiden secara langsung digunakan untuk memperoleh pendanaan atau memengaruhi proses pembelian saham.
Ia turut menyinggung kepemilikan Kaesang sekitar 40 persen saham Persis Solo. Namun, nilai kepemilikan itu tidak dapat dipastikan karena valuasi klub tersebut tidak dipublikasikan secara terbuka.
Menurut Noorsy, perkembangan bisnis keluarga pejabat tidak otomatis menjadi pelanggaran hukum. Namun, pertumbuhan usaha yang sangat cepat ketika orang tua memegang jabatan publik perlu diuji melalui prinsip transparansi dan etika.
“Ketika seorang pejabat menduduki satu posisi tertentu, maka semestinya sanak istri keluarga beberapa generasi ke kanan, kanan kiri, ke atas bawah, dia tidak boleh terlibat dengan kepentingan kejabatan itu,” ujar Noorsy.
Ubedilah mengaku pernah menyerahkan data dan hasil analisis mengenai bisnis serta kekayaan keluarga Jokowi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia juga menyebut pernah dimintai keterangan selama sekitar tiga jam.
“Kami sampaikan, diserahkan, kemudian di ujung dari diskusi itu KPK bilang, ‘Kalau dianalisis semuanya, ini terlihat kami harus memanggil presiden,’” kata Ubedilah.
Pernyataan tersebut merupakan penuturan Ubedilah mengenai pertemuannya dengan KPK. Dalam diskusi itu belum terdapat tanggapan langsung dari lembaga antirasuah yang mengonfirmasi pernyataan tersebut.
Sumber modal dan proses terbentuknya akses pendanaan senilai sekitar Rp92 miliar itu belum terjawab secara langsung. Ubedilah dan Noorsy menilai keterbukaan diperlukan agar pertumbuhan bisnis keluarga pejabat tidak terus memicu spekulasi mengenai kemungkinan adanya pengaruh kekuasaan.sua
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-50249-dari-mana-kaesang-dapat-pendanaan-rp92-miliar