JAKARTA (Realita)- Direktur eksekutif Rumah Politik Indonesia (RPI) Fernando Emas menyayangkan sikap emosional Peresiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang dinilai kebablasan.
Salah satunya adalah umpatan Prabowo soal Pakar-pakar bodoh karena memberikan kritik kepada pemerintahannya, khususnya program-program unggulan pemerintahan Kabinet Merah Putih.
“Prabowo Subianto terlalu emosional dalam menerima kritik dan masukan terhadap pemerintahan serta program yang sedang dijalankan,” kata Fernando, Minggu (20/9/2026).
Sikap Prabowo tersebut menurut Fernando menjadi bukti penting bagaimana karakter kepemimpinan Presiden RI ke 8 tersebut.
“Semakin menunjukkan bahwa Prabowo Subianto adalah sosok yang arogan dan tidak siap menerima kritik,” ujarnya.
Soal sebutan goblok kepada para pakar malah menurut Fernando lebih cocok dialamatkan kepada Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu.
Betapa tidak, Prabowo sebagai Presiden seharusnya sangat mau membuka diri atas kritik dan saran dari luar pemerintahan. Namun faktanya, sikap Prabowo dan ucapannya itu justru pemerintahannya memang anti kritik.
“Saya kira pernyataan Prabowo tersebut lebih pantas ditujukan terhadap dirinya sendiri. Seharusnya sebagai presiden mau membuka diri terhadap kritik yang diberikan oleh berbagai pihak,” ucapnya.
Sikap anti kritik tersebut malah membuat pemerintahan Prabowo merasa paling benar dan tidak perlu kritik. Bagi Fernando, sikap resisten semacam itu tidak baik bagi roda pemerintahan yang berjalan.
“Jangan merasa bahwa dia sudah paling sempurna sehingga tidak memerlukan kritik. Prabowo Subianto seperti katak dalam tempurung memimpin Indonesia.
Masukan dan informasi yang benar hanya dari orang-orang disekitarnya sehingga masukan dan kritik dianggap tidak penting,” ketusnya
Oleh sebab itu, jika sikap arogansi Prabowo terus dipelihara, pengamat politik ini pun melakukan kalkulasi bahwa Prabowo Subianto bisa saja tidak sampai 2029 dalam menjalankan pemerintahannya.
“Saya semakin yakin kalau Prabowo Subianto tidak akan menuntaskan kepemimpinannya sampai 2029,” tuturnya.
Ketimbang berpikir melanjutkan pemerintahan di periode kedua, Fernando menyarankan Prabowo fokus saja memperbaiki diri agar pemerintahannya bisa berjalan lancar sampai akhir jabatan di periode pertama ini.
“Jadi sebaiknya Prabowo jangan terlalu jauh memikirkan untuk memikirkan kontestasi 2029 sedangkan untuk menuntaskan periode pertamanya saja sangat sulit dan sangat terbuka diturunkan sebelum habis masa jabatannya,” pungkas Fernando.war
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-51179-sebut-pakar-gblk-prabowo-dinilai-kebablasan