Biaya Pakan Membengkak hingga 70 Persen, FPIK UB Hadirkan Solusi Efisiensi bagi Pembudidaya Lele

realita.co
FPIK UB menghadirkan pendampingan berbasis teknologi dan praktik budidaya yang lebih efisien bagi Pokdakan Barokah Jaya di Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

KABUPATEN MALANG – Bagi banyak pembudidaya ikan lele, tingginya biaya pakan masih menjadi tantangan terbesar dalam menjaga keuntungan usaha. Tak jarang, pengeluaran untuk pakan menghabiskan lebih dari 60–70 persen biaya produksi sehingga keuntungan pembudidaya menjadi semakin tipis. Menjawab persoalan tersebut, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan pendampingan berbasis teknologi dan praktik budidaya yang lebih efisien bagi Pokdakan Barokah Jaya di Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Pemberdayaan Kelompok Pembudidaya Ikan Lele melalui Penerapan Manajemen Budidaya Berbasis Efisiensi Pakan", tim dosen FPIK UB bersama mahasiswa mendampingi para pembudidaya agar mampu mengelola usaha budidaya secara lebih produktif, hemat biaya, dan berkelanjutan. Program ini diketuai oleh Wahyu Endra Kusuma, S.Pi., M.P., D.Sc., dengan melibatkan sejumlah dosen Program Studi Budidaya Perairan.

Baca juga: FPIK UB and IIUM Join Forces through Adjunct Professor Program to Tackle Marine Plastic Pollution 

Pendampingan dilakukan secara langsung di kolam budidaya milik Pokdakan Barokah Jaya melalui pelatihan pengaturan dosis dan frekuensi pemberian pakan, pemantauan biomassa ikan, evaluasi Feed Conversion Ratio (FCR), pengelolaan kualitas air, hingga praktik fermentasi pakan sebagai alternatif untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi FPIK UB dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) dan SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ekonomi pembudidaya dan ketahanan pangan berbasis protein ikan. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui transfer pengetahuan, SDG 14 (Life Below Water) dengan mendorong praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok masyarakat.

FPIK UB menghadirkan pendampingan berbasis teknologi dan praktik budidaya yang lebih efisien bagi Pokdakan Barokah Jaya di Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Zulkisam Pramudia, dosen Budidaya Perairan FPIK UB sekaligus pelaksana program, menjelaskan bahwa keberhasilan usaha budidaya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pakan yang diberikan, tetapi juga ketepatan dalam mengelolanya.

"Dalam budidaya lele, pakan merupakan komponen biaya terbesar. Karena itu, pemberiannya tidak bisa hanya berdasarkan kebiasaan. Melalui pendampingan ini kami mengenalkan cara mengelola pakan secara lebih terukur, termasuk melalui fermentasi pakan, sehingga penggunaannya menjadi lebih efisien tanpa mengurangi pertumbuhan ikan," jelasnya.

Baca juga: Menembus Batas Negara, FPIK UB dan IIUM Bersatu Cari Solusi Inovatif Atasi Pencemaran Plastik Laut

Menurut Zulkisam, pembudidaya juga didorong untuk mulai menerapkan pencatatan sederhana mengenai penggunaan pakan, pertumbuhan ikan, dan kualitas air sebagai dasar pengambilan keputusan dalam proses budidaya.

"Kami ingin pembudidaya memiliki kemampuan untuk mengevaluasi usahanya sendiri. Dengan pencatatan yang baik, pemberian pakan menjadi lebih tepat, biaya produksi dapat ditekan, dan kualitas lingkungan budidaya tetap terjaga. Pendampingan seperti ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus keberlanjutan usaha masyarakat," tambahnya.

Ketua Pokdakan Barokah Jaya, Achmad Sugiyono, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru yang langsung dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.

Baca juga: FPIK UB Go Internasional! Gandeng Universiti Malaysia Sabah untuk Riset dan Pertukaran Mahasiswa

"Selama ini kami lebih banyak mengandalkan pengalaman. Dari pendampingan ini kami belajar menghitung kebutuhan pakan, mengatur waktu pemberian pakan, menjaga kualitas air, hingga membuat pakan fermentasi. Ilmu seperti ini sangat bermanfaat karena bisa langsung kami praktikkan untuk meningkatkan hasil budidaya," ungkapnya.

Ia berharap kolaborasi dengan FPIK UB dapat terus berlanjut sehingga para pembudidaya memperoleh pendampingan secara berkesinambungan dalam mengembangkan usaha budidaya lele yang lebih modern dan efisien.

Melalui program pengabdian ini, FPIK UB kembali menegaskan peran perguruan tinggi sebagai mitra masyarakat dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas budidaya, tetapi juga membantu pembudidaya menekan biaya produksi, memperkuat daya saing usaha, serta mendorong tumbuhnya sektor perikanan budidaya yang berkelanjutan di Kabupaten Malang.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru