PONOROGO (Realita)— Memasuki usia abad kedua, Pondok Modern Darussalam Gontor bersiap meluncurkan sebuah karya monumental berupa buku bertajuk "Hadiah Gontor untuk Indonesia". Buku ini dirancang untuk merangkum rekam jejak, kontribusi nyata, serta sistem nilai yang selama ini diaplikasikan Gontor dalam membangun peradaban bangsa.
Rencana strategis tersebut dipaparkan oleh Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam forum Sarasehan bertema “Sistem dan Nilai Gontor: Dari Warisan Pendidikan Menuju Khazanah Keilmuan Global” di Aula Gedung Terpadu UNIDA, Ponorogo, Jawa Timur. Forum ilmiah ini dihadiri sedikitnya 500 peserta yang merupakan profesor dan doktor alumni Gontor.
Baca juga: Makna 6,3 K di Balik Fun Run Satu Abad Gontor dan HUT UNIDA Ponorogo
Prof. Hamid menjelaskan bahwa buku tersebut akan menjadi dokumentasi otentik mengenai langkah perjuangan Gontor di berbagai sektor kehidupan nasional, mulai dari ranah keagamaan, pemerintahan, sosial kemasyarakatan, hingga penggerak roda ekonomi.
"Ini buku insyaallah akan menulis berbagai langkah perjuangan Gontor, baik dari sisi keagamaan dengan sekian ribu kiai, dengan sekian puluh orang yang menjadi pejabat pemerintah, sekian orang yang jadi pengusaha, sekian orang yang menjadi apa, penggerak masyarakat, ya," ujar Prof. Hamid.
Ia juga mengklaim peran pionir Gontor dalam pembaruan institusi pesantren di tanah air. "Termasuk juga hadiah sistem Pondok Modern Gontor ke Indonesia ini, yang saya yakin bahwa pencetus pertama pondok modern adalah Gontor. Setelah itu baru orang ikut-ikut menjadi pondok modern," tambahnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Hamid menekankan kekuatan ikatan alumni Gontor yang berbasis ukhuwah islamiah. Soliditas alumni ini dinilai mampu melintasi batas-batas primordial ataupun sekat keorganisasian nasional.
Ia mencontohkan, alumni Gontor pernah dipercaya memimpin dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia secara bersamaan, yakni Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Saat ini, komunitas alumni Gontor kian berkembang pesat dan membentuk berbagai wadah afinitas spesifik. Di antaranya Ikatan Doktor Alumni Gontor (IDAGo), forum bisnis, ikatan kiai, hingga asosiasi advokat. Bahkan di sektor ekonomi, tercatat ada sekitar 170 biro perjalanan haji dan umrah di Indonesia yang dikoordinasikan penuh oleh alumni Gontor.
Langkah strategis jangka panjang ini sejalan dengan keputusan sidang Badan Wakaf Gontor baru-baru ini yang mulai menyusun Rencana Strategis (Renstra) untuk menyambut 100 tahun kedua Gontor.
Selain sarasehan akademis, momentum ini juga diisi dengan agenda bedah buku sistem Pondok Modern Darussalam Gontor. Prof. Hamid mengonfirmasi bahwa saat ini ada sekitar 100 judul buku yang sedang dan akan diterbitkan untuk mendokumentasikan sistem-sistem spesifik yang berlaku di Gontor agar dapat dikaji secara ilmiah dan menjadi teori global.
Baca juga: Lima Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Teridentifikasi, Total Tewas 14 Santri
Sistem tersebut meliputi tata kelola wakaf, pengasuhan santri, pengajaran bahasa Arab dan Inggris, kemandirian, pembentukan kepemimpinan (leadership), hingga internalisasi gagasan "Panca Jiwa" (keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiah, dan kebebasan).
Prof. Hamid mengakui, selama ini kajian mengenai literatur Gontor kebanyakan hanya bersifat informatif tulisan pendek atau populer (Wardun), sementara sistemnya secara utuh belum pernah diterbitkan secara metodologis.
"Karena memang di Gontor ini kita melaksanakan sesuatu yang mulia dan tidak berani menuliskannya. Ini prinsipnya orang sufi itu begitu. Dia mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dia tuliskan. Berbeda dengan filosof. Dia menulis banyak hal yang dia tidak bisa kerjakan," tutur Prof. Hamid.
Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus Presiden UNIDA Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menegaskan keunikan Gontor sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki karakteristik fundamental dan tidak mudah ditiru secara instan.
Kiai Hasan menceritakan pengalamannya saat menerima kunjungan resmi delegasi dari Malaysia yang terdiri dari wakil rakyat, profesor, dan rektor universitas. Mereka menyatakan keinginan kuat untuk mereplikasi secara utuh model Gontor di negeri jiran.
Baca juga: Akademisi UNIDA Gontor Ponorogo Kembangkan Edu Wisata Batik Ciprat
"Saya jawab, 'Nggak bisa.' Kaget. 'Asem,' katanya. Saya tanya, 'Bisa nggak Malaysia mencari guru yang tidak dibayar?' 'Nah, tak mau.' Tak boleh lah... Pesantren itu lembaga pendidikan yang unik, dan Gontor unik daripada yang unik-unik," ujar Kiai Hasan diselingi seloroh khasnya.
Menurut Kiai Hasan, esensi dan ruh sesungguhnya dari Pondok Modern Gontor terletak pada aspek kebersamaan dan keikhlasan mendalam yang sering kali tidak tertulis di atas kertas formalitas ataupun diucapkan.
Ia mencontohkan bagaimana nilai kebersamaan tiga Trimurti pendiri Gontor—K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi—dalam merintis pondok agar tegak berdiri tanpa memerlukan proposal formal, melainkan melalui komitmen total dan pengorbanan personal.
"Di Gontor ini lebih banyak yang tidak ditulis daripada yang ditulis. Di pondok kita ini lebih banyak yang tidak diucapkan daripada yang diucapkan. Betul? Inilah uniknya Gontor... Kebersamaan Sahal, Fanani, Zarkasyi, tak tertulis! Siapa yang berani menulis? Siapa yang bisa menulis?" pungkas Kiai Hasan di hadapan ratusan akademisi tersebut.
Melalui gerakan akademis ini, Gontor menegaskan komitmennya untuk mentransformasikan sistem warisan tradisi luhur yang bersifat internal menjadi kodifikasi khazanah keilmuan yang terstruktur, agar nilai-nilai pendidikan pesantren modern Indonesia dapat diakses dan diadopsi oleh dunia internasional secara luas. znl
Editor : Redaksi