SIDOARJO (Realita)— Tim SAR gabungan terus bekerja tanpa henti mengevakuasi korban reruntuhan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Hingga Sabtu pagi, 5 Oktober 2025, total 14 santri dilaporkan meninggal dunia, sementara 118 lainnya berhasil diselamatkan.
Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan proses pencarian dilakukan selama 24 jam dengan sistem bergantian antara personel Basarnas, TNI, Polri, dan relawan.
“Seluruhnya bekerja siang malam secara bergantian. Prinsip utama kami tetap pada keselamatan korban dan kehati-hatian,” ujar Nanang, Jumat malam, 4 Oktober 2025.
Empat korban terbaru ditemukan pada Jumat sore hingga malam hari, masing-masing pukul 17.15 WIB, 17.20 WIB, 17.30 WIB, dan 23.00 WIB di sektor A4. Seluruh jenazah ditemukan di lantai satu musala dalam kondisi utuh dan berdekatan satu sama lain.
“Begitu terlihat ada korban, alat berat langsung dihentikan. Evakuasi dilakukan secara manual sampai selesai, baru alat berat kembali digunakan untuk membuka akses,” tutur Nanang.
Dari 14 korban tewas, lima di antaranya telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Mereka adalah: Maulana Alfan Ibrahimavic (15), asal Bangkalan, domisili Bongkaran, Pabean Cantikan, Surabaya. Mochammad Mashudulhaq (14), asal Kalikendal, Dukuh Pakis, Surabaya. Muhammad Soleh (22), asal Tanjung Pandan, Bangka Belitung. Rafi Catur Okta Mulya Pamungkas (17), asal Putat Jaya, Surabaya. Moch. Agus Ubaidillah (14), asal Gresik Gadukan, Morokrembangan, Surabaya.
Sementara sembilan korban lainnya masih dalam proses identifikasi di RS Bhayangkara H.S Samsoeri Mertojoso, Surabaya. Tim DVI Polri melakukan pencocokan ciri fisik dan pengujian DNA untuk memastikan identitas mereka.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, lima sampel DNA korban telah dikirim ke Pusdokkes Mabes Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut.yudhi
Editor : Redaksi