Pasar Puspa Agro Tak Hanya Sepi, Direksi Baru Ngaku Diwarisi Utang Miliaran Rupiah

realita.co
Lapak-lapak di Puspa Agro yang melompong tak bertuan dan tak ada transaksi. Foto: IKa

SIDOARJO (Realita)- Persoalan Puspa Agro ternyata tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan yang sepi.

Direktur PT Puspa Agro, Agus Muslimin juga mengungkap adanya persoalan keuangan yang menurut dia sudah menjadi beban perusahaan ketika dirinya mulai menjabat sebagai direktur.

Baca juga: Rp585 Miliar Digelontorkan, Puspa Agro Masih Sepi, Direktur Akui Petani Sulit Berdagang Langsung

Agus mengatakan, saat dirinya menduduki posisi direktur, perusahaan sudah dibebani utang dalam jumlah miliaran rupiah yang menurut keterangannya berasal dari masa kepengurusan direksi sebelumnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus saat menjelaskan berbagai persoalan yang harus dihadapi manajemen dalam mengelola Puspa Agro.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus diselesaikan oleh manajemen saat ini, di tengah upaya menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di kawasan Puspa Agro.

“Waktu saya menjabat, saya sudah dibebani utang miliaran dari direksi lama,” ujar Agus, Selasa (4/8/2026) saat ditemui Realita.co

Namun, terkait nilai pasti utang, pihak yang menjadi kreditur, serta rincian kewajiban yang dimaksud, masih perlu dikonfirmasi dan ditelusuri lebih lanjut berdasarkan dokumen serta laporan keuangan perusahaan.

Pernyataan Agus tersebut sekaligus membuka persoalan lain di balik pengelolaan Puspa Agro. Di satu sisi, perusahaan mengelola kawasan dengan investasi publik yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Di sisi lain, manajemen saat ini mengaku masih harus menghadapi beban keuangan yang diwariskan dari periode sebelumnya.

Agus juga menyinggung pandemi Covid-19 sebagai salah satu faktor yang turut memukul aktivitas perdagangan di Puspa Agro.

Menurut dia, setelah pandemi terjadi, aktivitas perdagangan di kawasan tersebut mengalami tekanan yang cukup berat.

Baca juga: Kondisinya Kumuh, Lengang dan Mangkrak, tapi DPRD Jatim Klaim Kinerja Puspa Agro Makin Baik

“Begitu ini kena Covid, hancur,” ujar Agus.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa persoalan Puspa Agro bukan semata-mata berkaitan dengan ketersediaan bangunan atau fasilitas perdagangan. Lebih jauh, terdapat persoalan mengenai bagaimana menciptakan ekosistem perdagangan yang mampu mempertemukan petani, pedagang, distributor dan konsumen secara berkelanjutan.

Di sisi lain, keberadaan sejumlah fasilitas yang belum termanfaatkan secara maksimal menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pengelola maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pemilik investasi.

Dengan nilai investasi yang disebut mencapai sekitar Rp585 miliar, publik tentu memiliki ekspektasi besar terhadap keberadaan Puspa Agro.

Pertanyaan mengenai tingkat okupansi kios, kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), kinerja keuangan perusahaan, pemanfaatan aset, serta strategi menghidupkan kembali aktivitas perdagangan menjadi relevan untuk dijawab secara terbuka.

Baca juga: Ratusan Miliar Rupiah APBD Jatim Sudah Digelontorkan, Puspa Agro Tetap Sepi: Publik Marah, Pejabat dan Pengelola Bungkam

Termasuk pula persoalan mengenai utang miliaran rupiah yang disebut Agus telah ada ketika dirinya mulai menjabat. Perlu ada penjelasan secara terbuka mengenai asal-usul utang, periode pembentukannya, pihak yang terkait, serta bagaimana penyelesaiannya oleh manajemen saat ini.

Sebab, persoalannya bukan sekadar apakah Puspa Agro masih beroperasi atau tidak. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah investasi publik ratusan miliar rupiah tersebut telah menghasilkan manfaat ekonomi yang sebanding bagi petani, pedagang, masyarakat dan daerah.

Kini, publik menunggu langkah konkret Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan manajemen PT Puspa Agro untuk menjawab persoalan tersebut. Terlebih, Puspa Agro sejak awal dibangun bukan sekadar sebagai kawasan perdagangan, melainkan sebagai pusat agrobisnis yang diharapkan mampu menjadi mata rantai penting antara produksi pertanian dan pasar.

Jika kawasan seluas puluhan hektare dengan investasi ratusan miliar masih belum mampu menggeliat secara optimal, sementara manajemen juga mengaku menghadapi beban utang dari periode sebelumnya, maka evaluasi menyeluruh terhadap model bisnis, pengelolaan aset, kondisi keuangan, strategi pemasaran hingga arah kebijakan Puspa Agro menjadi hal yang sulit untuk dihindari.tyan

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru