Pengelola SPPG dan Yayasan Darussalam Lamongan Gerak Cepat Tindaklanjuti Dugaan Bau Limbah

realita.co
SPPG Tumenggungbaru. Foto: Yusuf

LAMONGAN (Realita) — Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tumenggungbaru bersama Yayasan Darussalam bergerak cepat menindaklanjuti informasi mengenai dugaan bau limbah yang beredar melalui aplikasi WhatsApp. Keluhan tersebut mendapat perhatian serius karena berkaitan dengan pengelolaan limbah dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menindaklanjuti informasi tersebut, pihak pengelola SPPG dan Yayasan Darussalam turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) serta saluran air di sekitar dapur SPPG Tumenggungbaru.

Baca juga: Diduga Cemari Sawah Warga, Limbah Dapur SPPG Assalam Sumberjo Dikeluhkan Petani Geger

Perwakilan Yayasan Pondok Pesantren Darussalam, Kyai Abdul Chamid, mengatakan bahwa pengelolaan IPAL di dapur SPPG selama ini dilakukan secara rutin. Menurutnya, pihak pengelola juga terbuka terhadap masukan maupun keluhan masyarakat terkait operasional dapur.

 

"Maaf, sebelumnya kita sudah melakukan pemeliharaan IPAL secara rutin. Sejauh ini belum ada komplain resmi dari masyarakat, khususnya melalui RT maupun RW," ujar Kyai Chamid.

Dari hasil pengecekan di saluran yang berada di sisi selatan dapur SPPG, pihaknya tidak menemukan adanya bau limbah yang menyengat. Kondisi saluran juga dinilai relatif bersih dan tidak terdapat tumpukan sampah.

"Hasil pengecekan di saluran sebelah selatan, kondisinya relatif bersih dan tidak ada sampah. Tidak ditemukan bau yang menyengat," tegasnya.

Sementara itu, kondisi berbeda ditemukan pada saluran di sisi utara dapur. Saluran tersebut memang terlihat kotor karena terdapat ranting dan sampah yang menyebabkan aliran air tidak berjalan dengan baik.

Menurut Kyai Chamid, kondisi saluran yang tersumbat tersebut berpotensi menimbulkan bau seperti bau got pada umumnya. Namun, berdasarkan pengecekan di lokasi, pihaknya tidak menemukan indikasi bahwa bau tersebut berasal dari limbah dapur SPPG.

"Untuk saluran sebelah utara memang kotor karena tersumbat ranting dan sampah. Tidak ada aliran air sehingga muncul bau seperti bau got pada umumnya. Bukan bau limbah dapur," jelasnya.

Meski demikian, pihak Yayasan Darussalam menegaskan tidak mengabaikan keluhan masyarakat. Setiap masukan yang disampaikan warga akan menjadi bahan evaluasi untuk memastikan pengelolaan dapur SPPG tetap berjalan sesuai ketentuan.

"Kami siap menerima kritik dan masukan yang membangun. Masukan dari warga tetap kami tindak lanjuti sesuai dengan keluhan yang disampaikan," tambah Kyai Chamid.

Dari sisi sarana pengolahan limbah, pihak SPPG menyampaikan bahwa fasilitas IPAL yang digunakan telah dilengkapi sejumlah tahapan pengolahan. Di antaranya grease trap untuk menangkap lemak, bak ekualisasi, biofilter anaerob, reaktor aerob, sedimentasi, filtrasi hingga proses disinfeksi.

Kapasitas fasilitas tersebut juga disesuaikan dengan ukuran dan kebutuhan operasional dapur. Sistem IPAL dilengkapi ventilasi untuk pengelolaan gas serta dilakukan pengujian terhadap baku mutu secara berkala sebagai bagian dari upaya memastikan air hasil pengolahan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya, warga di sekitar dapur MBG SPPG Tumenggungbaru menyampaikan keluhan terkait dugaan adanya limbah cair berwarna hitam yang mengalir ke saluran air di depan KUD Jalan Pahlawan. Selain perubahan warna air, warga juga mengeluhkan munculnya bau yang dinilai cukup menyengat.

Informasi mengenai keluhan tersebut kemudian beredar di WhatsApp dan mendapat perhatian dari pihak pengelola SPPG serta Yayasan Darussalam. Pengecekan lapangan dilakukan untuk memastikan sumber bau dan kondisi saluran di sekitar dapur.

Setelah dilakukan pengecekan bersama, pihak pengelola SPPG dan Yayasan Darussalam menyatakan siap menindaklanjuti masukan warga, termasuk melakukan pemeliharaan saluran yang mengalami penyumbatan.

Langkah tersebut dinilai penting agar persoalan lingkungan di sekitar dapur SPPG tidak berkembang menjadi keresahan masyarakat. Di sisi lain, pengelolaan limbah menjadi salah satu aspek penting dalam keberlangsungan operasional dapur MBG, mengingat aktivitas dapur menghasilkan air limbah dari proses pencucian bahan makanan, peralatan memasak maupun aktivitas operasional lainnya.

Pihak pengelola berharap komunikasi dengan masyarakat dapat terus terjaga. Dengan demikian, setiap persoalan yang muncul di lapangan dapat segera diketahui dan ditangani sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.

Masyarakat pun diharapkan dapat menyampaikan keluhan melalui jalur komunikasi yang tersedia sehingga setiap laporan dapat diverifikasi secara langsung. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan program Makan Bergizi Gratis agar tetap berjalan dengan memperhatikan aspek kebersihan, kesehatan masyarakat dan pengelolaan lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku.

Reporter: M.Yusuf Al Ghoni

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru