BANYUWANGI (Realita)- Perjalanan si Ular Besi (Kereta Api) Sangkuriang dari Stasiun Jember menuju Ketapang, Banyuwangi, tidak seperti biasanya. Jumat (25/9) pagi, para penumpang dibikin terperangah ketika tiba-tiba mendapatkan suguhan lenggak-lenggok Tari gandrung yang dibawakan 7 orang penari.
Tak ayal, suasana di dalam kereta yang sebelumnya diwarnai oleh kepasifan aktivitas masing-masing penumpang, suasana mendadak riuh dan dinamis. Apalagi, para penari tidak hanya ber-lenggak-lenggok semata, tetapi juga menyapa para penumpang dengan ramah.
Dengan balutan tata kostum tarian khas Banyuwangi yang sarat makna, atraksi Tari Gandrung di dalam KA Sangkuriang itupun sukses menyita perhatian dan menjadi kejutan menyenangkan bagi segenap penumpang. Terhitung sejak melintasi Stasiun Kalibaru hingga memasuki perhentian akhir di Stasiun Ketapang, warisan budaya yang melambangkan identitas masyarakat Banyuwangi itupun berhasil mewarnai perjalanan yang membosankan menjadi menyenangkan.
Penampilan Tari Gandrung itu ternyata sengaja digelar dalam rangka perintatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kereta Api yang ke 81. Suguhan menarik itu merupakan kolaborasi dalam rangka kemitraan strategis antara Manajemen PT KAI Daops 9 Jember dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Kolaborasi ini mempertegas komitmen kedua belah pihak dalam menyatukan keandalan moda transportasi publik dengan pesona warisan budaya lokal, sekaligus mengukir kenangan manis yang berkesan bagi setiap pengguna jasa.
Momen menarik bertajuk “Gandrung On Train” tersebut tidak langsung berhenti begitu roda kereta tiba di Stasiun.
Sesampai di Stasiun paling ujung timur Jawa itu, para penari kembali memperagakan gerak gemulai tarian kebanggaan Banyuwwqngi. Sambutan hangat berbalut kearifan lokal ini memercikkan impresi yang mendalam bagi masyarakat yang baru saja menjejakkan kaki di peron Stasiun Ketapang.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menuturkan bahwa agenda KAI Mini Fair dirancang sebagai medium perusahaan untuk mendekatkan sukacita perayaan ulang tahun ke-81 langsung ke hadapan para pengguna setia, selaras dengan semangat mempererat kemitraan bersama instansi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Peringatan hari ulang tahun KAI pada tahun ini disajikan bukan sekadar serangkaian upacara formal, melainkan lewat pengalaman autentik yang bisa dirasakan secara nyata oleh para pelanggan. Agenda ini dapat terlaksana berkat sinergi erat bersama Pemkab Banyuwangi melalui Disbudpar serta mitra kerja pendukung. Harapan kami, perjalanan menggunakan moda kereta api terasa kian berkesan, salah satunya lewat suguhan Tari Gandrung yang merupakan salah satu kebanggaan budaya Banyuwangi,” jelas Cahyo.
Menurut Cahyo, saat tari Gandrung dipertontonkan dalam gerbong, para penumpang tak hanya berposisi sebagai penonton pasif, melainkan lebur menjadi bagian dari kemeriahan pesta ini.
“Setibanya di Ketapang, impresi positif tersebut kami sambung lewat program Gandrung On Station beserta aneka hiburan menarik. Kolaborasi erat dengan pemerintah daerah serta para mitra menjadi pilar penting demi menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat sekaligus pengalaman positif bagi publik,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofik, menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas agenda tersebut.
Ia menilai, pihak KAI telah mengambil langkah cerdas dalam mempromosikan seni Tari Gandrung kepada para pengguna jasa dari luar daerah di momentum perayaan HUT KAI.
"Kami mengucapkan selamat ulang tahun ke-81 untuk KAI. Apresiasi dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kami sampaikan karena KAI telah mengusung gagasan Gandrung On Train, sehingga tarian khas Banyuwangi ini makin dikenal luas oleh penumpang dari berbagai daerah. Lebih dari itu, ajang ini sekaligus menjadi media publikasi yang efektif untuk menggemakan gelaran kolosal Gandrung Sewu yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 mendatang," jelas Rofik. (bud)
Editor : Redaksi