JEMBER (Realita) - Aktivitas organisasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember selama masa karteker mulai dipertanyakan kader.
Setelah sekitar 76 hari berjalan, sejumlah kegiatan rutin yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas organisasi disebut tidak lagi berjalan seperti biasanya.
Baca juga: Jelang Muktamar Ke-35: Masih Adakah Musyawarah Mufakat di Tubuh NU?
Sorotan tersebut disampaikan Faiz, kader NU dari kalangan santri dan mahasiswa. Ia mempertanyakan keberlangsungan kegiatan organisasi, khususnya agenda yang selama ini menjadi ruang pembinaan kader, penguatan spiritual, serta komunikasi antara PCNU dengan warga dan struktur NU di tingkat bawah.
Menurut Faiz, masa karteker seharusnya tidak dimaknai sebagai berhentinya roda organisasi. Masa transisi tersebut justru dinilai perlu dimanfaatkan untuk memastikan pelayanan organisasi tetap berjalan sembari menunggu terbentuknya kepengurusan definitif.
“Yang kami pertanyakan bukan semata-mata soal ada atau tidaknya sebuah kegiatan. Yang lebih penting adalah apakah selama masa karteker roda organisasi tetap hidup dan kader serta warga NU tetap mendapatkan ruang pembinaan,” ujar Faiz, Jumat (02/10/2026).
Ia menyebut sejumlah agenda rutin yang sebelumnya menjadi bagian dari kegiatan PCNU Jember kini tidak lagi terlihat seperti sebelumnya. Salah satunya kegiatan shalawatan dan pengajian Aswaja yang secara rutin digelar setiap bulan, khususnya pada malam Selasa Kliwon.
Selain itu, Faiz menyoroti kegiatan Lailatul Ijtima yang selama ini menjadi salah satu ruang pertemuan dan penguatan silaturahmi warga NU. Kegiatan pengawasan serta koordinasi rutin dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) juga disebut perlu kembali mendapat perhatian.
Bagi Faiz, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Pengajian, shalawatan, Lailatul Ijtima, pembinaan spiritual, hingga koordinasi dengan MWCNU dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga komunikasi dan kohesi organisasi.
Baca juga: Kemlu Respon Soal 5 Nahdliyin Bertemu Presiden Israel
“NU bukan hanya organisasi yang bergerak ketika ada konferensi atau agenda besar. NU juga hidup dari kegiatan rutin, pengajian, selawatan, silaturahmi, pembinaan kader, dan komunikasi dengan struktur di bawah,” katanya.
Ia menegaskan, kritik tersebut tidak diarahkan untuk mempersoalkan keberadaan karteker. Namun, menurutnya, perlu ada kejelasan mengenai batas kewenangan karteker dan kegiatan organisasi yang masih dapat dijalankan selama masa transisi.
“Kalau ada kegiatan yang memang tidak boleh dilaksanakan karena batas kewenangan karteker, tentu harus ada penjelasan berdasarkan aturan. Tetapi kalau kegiatan tersebut masih dapat dilakukan dan memang menjadi bagian dari pembinaan organisasi, mengapa harus berhenti?” ujar Faiz.
Faiz juga menyoroti komunikasi antara PCNU dan MWCNU. Menurutnya, masa transisi justru membutuhkan koordinasi yang lebih intensif agar struktur NU di tingkat bawah tidak berjalan tanpa arah.
Baca juga: Viral Video Emak-emak Dukung AMIN, Muslimat Jatim Tegak Lurus Ikut Khofifah
“Justru ketika organisasi sedang mengalami transisi, komunikasi harus semakin intensif. MWCNU jangan sampai merasa berjalan sendiri tanpa arah dan koordinasi dari cabang,” tuturnya.
Ia berharap pejabat karteker PCNU Jember segera memastikan kembali kegiatan organisasi yang masih berada dalam ruang kewenangannya.
Selain itu, menurutnya, perlu ada penjelasan terbuka kepada struktur NU mengenai agenda apa saja yang tetap dapat dilaksanakan selama masa karteker.
“Kritik ini bukan untuk menjatuhkan karteker. Kami justru ingin mengingatkan bahwa organisasi harus tetap hidup. Karteker itu sementara, tetapi pelayanan dan pembinaan kepada warga NU tidak boleh kehilangan arah,” pungkas Faiz.rdy
Editor : Redaksi