SURABAYA – Lima siswa SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya mengembangkan inovasi perawatan luka bernama Venom Patch. Produk berbahan dasar biji kelabet atau fenugreek tersebut dikembangkan dengan harapan dapat menjadi alternatif perawatan luka ringan yang praktis dan mudah diakses masyarakat.
Inovasi ini dibawa oleh tim FASA FIX Smart dalam ajang JSF. Kelima anggota tim tersebut yakni Felio Altaf Prajatara, Daekenzie Ar Rayyan Adityawarman, Muhammad Farzana Admawidya, Zivara Rahmalika Alyadeena Maricar Sahib, dan Kania Olivia Daniandra.
Venom Patch berangkat dari pemanfaatan biji kelabet yang selama ini lebih dikenal sebagai rempah-rempah untuk kebutuhan memasak. Para siswa melihat potensi bahan alami tersebut untuk dikembangkan menjadi produk perawatan luka.
Muhammad Farzana Admawidya menjelaskan, pemilihan biji kelabet didasarkan pada kandungan senyawa flavonoid yang berpotensi memiliki aktivitas biologis, termasuk antioksidan dan antiinflamasi. Tim kemudian mengembangkan gagasan tersebut menjadi produk yang diharapkan dapat membantu perawatan luka sekaligus melindungi area luka dari paparan bakteri.
“Biasanya biji kelabet lebih dikenal masyarakat sebagai bahan masakan. Kami mencoba memanfaatkannya untuk mengembangkan produk perawatan luka. Kami juga mengubah bentuk awal patch menjadi gel karena dinilai lebih mudah diaplikasikan pada kulit,” ujar Muhammad Farzana Admawidya, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, perubahan bentuk menjadi gel merupakan bagian dari pengembangan produk agar penggunaannya lebih fleksibel. Tim berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Felio Altaf Prajatara menjelaskan bahwa proses pengembangan produk dilakukan melalui tahapan pengujian untuk mengamati cara kerja serta kemungkinan efek yang ditimbulkan. Tim juga menceritakan pengalaman penggunaan produk pada seorang teman yang mengalami luka setelah terjatuh dari sepeda motor.
“Setelah digunakan sekitar satu minggu, kami melihat adanya perkembangan pemulihan luka. Dari pengalaman itu, kami berharap Venom Patch bisa dikembangkan lebih lanjut dan membantu masyarakat dalam perawatan luka ringan,” kata Felio Altaf Prajatara.
Meski demikian, pengalaman penggunaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui pengujian ilmiah yang terkontrol. Efektivitas dan keamanan Venom Patch belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan terbatas.
Bagi tim FASA FIX Smart, inovasi ini tidak sekadar menjadi karya untuk membanggakan sekolah. Mereka memiliki harapan agar produk tersebut dapat dikembangkan hingga berpeluang dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
“Kami ingin produk ini nantinya bisa diakses semua orang. Tujuan kami adalah membantu masyarakat dalam menangani luka ringan melalui produk yang praktis,” ungkap Zivara Rahmalika Alyadeena Maricar Sahib.
Ke depan, pengembangan Venom Patch masih membutuhkan penyempurnaan formulasi, pengujian keamanan, serta pembuktian efektivitas sebelum dapat dipasarkan sebagai produk perawatan luka.
Kreativitas lima siswa tersebut menunjukkan bahwa bahan alami yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi. Dengan dukungan penelitian dan pendampingan yang tepat, Venom Patch diharapkan dapat berkembang dari gagasan pelajar menjadi produk yang bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. tyan
Editor : Redaksi