Angka Kemiskinan Jember Turun Jadi 8 Persen, 15.990 Warga Keluar dari Garis Kemiskinan

realita.co
Gus Fawait. Foto: dok

JEMBER (Realita) – Angka kemiskinan di Kabupaten Jember turun menjadi 8 persen pada 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 15.990 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2025, jumlah penduduk miskin Jember tercatat sebanyak 216.760 jiwa atau 8,67 persen. Angka tersebut turun menjadi 200.770 jiwa atau 8 persen pada 2026. Capaian ini menjadi tingkat kemiskinan terendah Jember dalam satu dekade terakhir.

Baca juga: Keluar dari 2 Besar Termiskin di Jatim, Kemiskinan di Jember Turun Drastis

Penurunan tersebut juga diikuti perbaikan posisi Jember dalam pemetaan kemiskinan di Jawa Timur. Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait menyebut Jember kini berada di posisi ketiga, setelah bertahun-tahun menempati urutan kedua berdasarkan jumlah penduduk miskin secara absolut.

"Alhamdulillah, Jember hari ini sudah on the track. Selama bertahun-tahun kemiskinan kita selalu nomor dua secara absolut di Jawa Timur, dalam sejarahnya hari ini kita sudah on the track ada perbaikan, kita tidak nomor dua lagi, tapi sudah nomor tiga dengan adanya penurunan kemiskinan yang cukup signifikan di Kabupaten Jember," tegas Gus Fawait, Selasa (20/10/2026).

Meski menunjukkan tren positif, penurunan angka kemiskinan belum menyelesaikan seluruh persoalan kesejahteraan masyarakat. Data 2026 masih mencatat 200.770 penduduk miskin di Jember. Angka tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memastikan perbaikan statistik diikuti peningkatan kesejahteraan warga.

Jika melihat catatan historis BPS Jawa Timur, jumlah penduduk miskin Jember sempat mencapai 247.990 jiwa atau 10,09 persen pada 2020. Angka itu kembali meningkat pada 2021 hingga menyentuh 257.090 jiwa atau 10,41 persen.

Setelah melewati puncak tersebut, jumlah penduduk miskin berangsur menurun, meski sempat mengalami kenaikan pada 2023. Pada 2022, jumlahnya tercatat 232.730 jiwa atau 9,39 persen, kemudian naik menjadi 236.460 jiwa atau 9,51 persen pada 2023.

Tren penurunan kembali terjadi pada 2024 dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 224.770 jiwa atau 9,01 persen. Angka itu berlanjut turun menjadi 216.760 jiwa pada 2025, hingga mencapai 200.770 jiwa pada 2026.

Gus Fawait menyebut penurunan kemiskinan tidak terlepas dari kerja berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta. Ia juga menyoroti peningkatan belanja pemerintah melalui APBD dan APBN serta perkembangan investasi selama 2025–2026 sebagai faktor yang turut mendorong aktivitas ekonomi daerah.

Di tingkat masyarakat, Pemkab Jember menjalankan sejumlah program yang diarahkan untuk mengurangi beban pengeluaran keluarga. Di antaranya layanan kesehatan melalui Universal Health Coverage (UHC), layanan Homecare, serta fasilitas pengantaran pasien pulang menggunakan armada Mobil Cinta.

Intervensi di sektor pendidikan juga dilakukan melalui penyediaan beasiswa bagi sekitar 11 ribu mahasiswa. Sementara itu, program pasar murah, Bunga Desaku yang menyediakan paket sembako, dan bantuan pangan ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan biaya kebutuhan sehari-hari.

Gus Fawait menegaskan bahwa berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menjaga daya beli masyarakat dan menekan kemiskinan.

"Berbagai intervensi pasar murah, program Bunga Desaku yang menyediakan paket sembako, serta penyaluran bantuan pangan terbukti efektif menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan laju inflasi," imbuhnya.

Meski tingkat kemiskinan telah turun menjadi 8 persen, pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Penurunan jumlah penduduk miskin perlu dipertahankan melalui program yang tepat sasaran, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, serta penguatan ekonomi keluarga agar masyarakat tidak kembali jatuh ke bawah garis kemiskinan.

Gus Fawait menegaskan, capaian tersebut baru menjadi langkah awal. Pemkab Jember menargetkan jumlah penduduk miskin terus berkurang hingga berada di bawah 200.000 jiwa pada tahun-tahun mendatang.

Target itu menuntut keberlanjutan program pengentasan kemiskinan sekaligus evaluasi terhadap dampaknya. Sebab, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh turunnya persentase kemiskinan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan taraf hidup secara mandiri.

Dengan jumlah penduduk miskin yang masih mencapai 200.770 jiwa, tantangan berikutnya bagi Pemkab Jember adalah memastikan tren penurunan tersebut berlanjut. Capaian 8 persen menjadi pijakan baru, tetapi ukuran keberhasilan sesungguhnya tetap pada semakin banyaknya warga yang terbebas dari kemiskinan.

Gus Fawait menyatakan optimisme terhadap upaya penurunan kemiskinan tersebut. Pemkab Jember menargetkan jumlah penduduk miskin turun di bawah 200.000 jiwa pada tahun-tahun mendatang.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru