Kamis, 05 Agu 2021 WIB

Proyek Box Culvert si Perumahan Medokan Asri Utara III Mogok, DPRKPCKTR: Dihentikan

Rabu, 21 Jul 2021 17:15 WIB
Proyek Box Culvert si Perumahan Medokan Asri Utara III Mogok, DPRKPCKTR: Dihentikan

Suasana di lokasi proyek Box Culvert Medokan Asri Utara.

SURABAYA (Realita)- Pengerjaan Proyek Box Culvert Di Perumahan Medokan Asri Utara III mogok. Tidak terlihat adanya alat berat dan aktifitas seperti hari sebelumnya. Hal tersebut terlihat pada Rabu (21/7/2021).

Menurut Danu, Satgas Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman, Cipta Karya, dan Tata Ruang (DPRKPCKTR) pengerjaan proyek tersebut dihentikan sementara waktu.

"Kita hentikan sementara mas, karena adanya protes dan pemberitaan di media," ujarnya saat di hubungi melalui sambungan telepon (21/7/2021).

Ia berjanji pihak DPRKPCKTR akan melakukan perbaikan inrit dan taman. Danu menyatakan proyek Box Culvert tersebut sudah sesuai rencana.

“Karena menurut perhitungan hidrolika kapasitas air yang ada di utara tidak lancar sampai ke sungai,” terangnya.

Saat dikonfirmasi, Rahmad selaku pelaksana dari CV Adhiloka yang menurut Sekretaris RT I, Perumahan Medokan Asri Utara III, Eko Hendro merupakan pelaksana proyek Box Culvert di lingkungannya itu, Danu angkat suara.

“Dulu memang dikerjakan CV Adhiloka. Setelah dinilai bermasalah, kemudian di alihkan langsung Satgas DPRKPCKTR. Saya hanya melaksanakan perintah pimpinan, ” terangnya tanpa menjelaskan berapa nilai proyek Box Culvert tersebut.

Dari hasil pantauan di lokasi proyek Box Culvert tersebut, Minggu (18/7/2021) menemukan fakta tidak terpasang papan nama proyek. Beberapa pekerja proyek itu memilih bungkam saat ditanya siapa nama pelaksana proyek.

Mutu proyek Box Culvert itu juga diragukan kualitasnya dan terkesan amburadul. Tampak beberapa Box Culvert retak, genangan lumpur di pintu masuk perumahan, sampai tumpukan tanaman hias milik warga tergeletak di pinggir jalan, karena menjadi korban pengerjaan proyek tersebut.

Selain itu, terdapat warga di perumahan Medokan Asri Utara yang mengeluh. Salah satunya Ferdy, penghuni blok B 27 mengatakan akses jalan masuk menuju rumah harus dibongkar, sehingga dia harus merogoh kocek pribadi sebanyak Rp 9 juta untuk membangun kembali akses jalan menuju rumahnya. Ada lagi penghuni blok B 25 bernama Gunawan yang mengaku aliran air PDAM di rumahnya mati sejak dua minggu lalu, gegara diduga sambungan pipa air yang menuju rumahnya terputus akibat proyek _Box Culvert_ di tempatnya tinggal.

“Saya harus membeli air, harganya Rp 300 ribu untuk setiap satu truk tangki air. Pohon mangga saya juga ditebang tanpa izin. Semoga saya mendapat ganti rugi,” harapnya. Sd