Buntut Ucapan Kabid Pelayanan RSUD Ngimbang yang Merendahkan Tenaga Kesehatan

Advertorial

LAMONGAN (Realita)- Pelaksana Tugas (Plt) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngimbang, Hilda, menyayangkan sikap salah satu pejabat administrator yang ada di tempat bekerjanya tersebut, yang terkesan merendahkan tenaga kesehatan atau perawat dengan kata yang kurang pantas.

Menurutnya, manajemen RSUD Ngimbang memiliki komitmen kuat terhadap penguatan budaya kerja yang profesional dan menghargai setiap individu, tanpa memandang posisi atau jabatan. 

"Saya sangat menyesalkan adanya kejadian tersebut, dan Insyaallah perbaikan akan terus kami lakukan dalam semua aspek," kata Hilda kepada Media, Senin (6/4/2026).

Hilda akan memastikan bahwa setiap tenaga kesehatan diperlakukan sewajarnya, dan akan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga suasana kerja yang sehat, saling menghargai, dan mendukung satu sama lain dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

"Manajemen RSUD Ngimbang akan mengambil langkah-langkah tegas untuk mencegah terjadinya diskriminasi atau pernyataan yang merendahkan terhadap tenaga kesehatan, demi menciptakan suasana kerja yang saling menghormati dan mendukung keberhasilan dalam pelayanan medis," tegasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, seorang perawat dibagian ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Heny Amalia, merasa kecewa dengan proses mutasi tugasnya ke RSUD Ki Ageng, Kabupaten setempat, yang dinilai mendadak.

Perpindahan itu ia ketahui dari rekannya dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Lamongan, Nomor : 800.1.3.1/743/413.204/KEP/2026, tertanggal 12 Maret 2026.

Kekecewaan Heny semakin memuncak, ketika ia menemui Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan RSUD Ngimbang, Kurniadi, untuk menanyakan alasannya dipindah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Namun upaya itu justru disambut Kurniadi dengan menyebut Heny sebagai perawat "kroco-kroco", istilah orang yang tak mempunyai pengaruh/ bawahan.

Empat lawang dalam

Tak hanya itu, Kurniadi juga menjelaskan bahwa penempatan tugas memerlukan relasi di tingkat atas. "Mutasi memerlukan relasi dan jaringan dengan pejabat tinggi. Memang harus seperti itu, harus punya link," kata Heny menirukan ucapan Kurniadi, Kamis (2/4/2026).

Sementara saat dikonfirmasi melalui sambungan pesan, Kurniadi justru mengelak, bahwa dirinya tidak mengatakan ucapan tersebut.

"Maaf, saya gak pernah mengeluarkan kata tersebut. Sampean punya agama dan saya juga beragama. Jadi kata tersebut gak pantas disampaikan pada orang lain," pungkasnya, Kamis (2/4/2026).

Namun, ia mengakui jika setelah mutasi ditemui sejumlah perawat. "Setelah surat mutasi keluar, benar satu persatu menghadap. Saya berpesan bahwa, saya sendiri juga dimutasi bukan kehendak saya, direktur jg demikian," terusnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat 7 Nakes RSUD Ngimbang yang dimutasi tugas di RSUD Ki Ageng Brondong, diantaranya 1 dokter, 3 bidan dan 1 tenaga Lab, yang masing-masing di mutasi atas permintaan sendiri. 

Berbeda dengan 2 perawat, salah satunya Heny Amalia, yang tiba-tiba diberikan SK mutasi tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Reporter: M.Yusuf Al Ghoni

Editor : Redaksi

Berita Terbaru