BPH Migas Bongkar Penyebab Distribusi BBM Jember Tersendat, 15 Truk dari Surabaya Disiapkan

JEMBER (Realita) - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkap kepadatan jalur logistik di Banyuwangi menjadi salah satu pemicu tersendatnya distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke Kabupaten Jember.

Distribusi BBM Jember selama ini mengandalkan pasokan dari Integrated Terminal Tanjungwangi, Banyuwangi. Namun, kepadatan kendaraan menuju kawasan Pelabuhan Tanjungwangi dan Ketapang membuat mobil tangki pengangkut BBM ikut terdampak.

Ketua Komite BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, lonjakan aktivitas kendaraan di kawasan tersebut cukup signifikan. Kendaraan logistik meningkat sekitar 12 persen, sedangkan kendaraan roda empat untuk angkutan penumpang, barang, dan kendaraan pribadi naik sekitar 8 persen.

“Memang situasi kondisinya kemarin terganggu karena terkunci pengiriman BBM dari Integrated Terminal Tanjungwangi Banyuwangi yang dikirim ke Jember, ada hambatan,” kata Wahyudi Anas, saat mengunjungi SPBU di Jalan Gajah Mada, Kaliwates, Jember, Jumat (11/09/2026) malam.

Menurut Wahyudi, peningkatan paling mencolok terjadi pada kendaraan roda dua dari Banyuwangi menuju Bali yang mencapai sekitar 42 persen. Lonjakan arus kendaraan tersebut memperparah kepadatan jalur menuju pelabuhan dan berdampak pada distribusi BBM ke Jember.

Kondisi tersebut, kata dia, sudah mulai terurai setelah pemerintah daerah dan Forkopimda Banyuwangi melakukan penanganan. Jalur distribusi BBM kemudian kembali dikawal agar mobil tangki Pertamina dapat melintas lebih lancar menuju Jember.

“Ini terurai, sekitar empat hari lalu sudah terurai dibantu pemerintah daerah dan Forkopimda di Banyuwangi dan dikawal, dan semua berjalan dengan baik,” ujar Wahyudi.

Meski kondisi mulai normal, BPH Migas bersama Pertamina Patra Niaga menyiapkan skema cadangan untuk mencegah antrean BBM kembali terjadi.

Salah satunya dengan mengalihkan sebagian pasokan Jember dari Surabaya apabila jalur Tanjungwangi kembali terganggu.

Sebanyak 15 unit mobil tangki dari Surabaya disiapkan khusus untuk memasok BBM ke Jember.

Sementara pasokan untuk Situbondo dan Bondowoso juga dapat dialihkan dari Surabaya apabila terjadi gangguan distribusi dari Banyuwangi.

“Pertamina Patra Niaga telah menerapkan suplai yang gangguan dari Tanjungwangi Banyuwangi tadi disuplai dari Surabaya sebanyak 15 unit truk, mensuplai khusus untuk Jember,” kata Wahyudi.

Skema tersebut menjadi penting karena distribusi dari Surabaya membutuhkan waktu lebih panjang.

Perjalanan mobil tangki Surabaya-Jember diperkirakan mencapai sekitar 10 jam, sedangkan pengiriman dari Tanjungwangi hanya membutuhkan sekitar 6 sampai 8 jam.

Selain kepadatan pelabuhan, BPH Migas juga menyoroti potensi gangguan di jalur utama menuju Jember.

Longsor di kawasan Gunung Gumitir, misalnya, dapat memberikan dampak berantai terhadap pengiriman BBM apabila akses utama kembali terganggu.

“Kalau ada sedikit gangguan, otomatis kita suplai dari Surabaya. Perjalanannya memang meningkat. Surabaya ke Jember kurang lebih membutuhkan sekitar 10 jam,” jelas Wahyudi.

Persoalan kepadatan kendaraan juga dipengaruhi pekerjaan peningkatan kapasitas Dermaga Nomor 3.

Kapasitas dermaga yang sebelumnya melayani kendaraan roda enam dengan muatan di bawah 25 ton ditingkatkan menjadi hingga 50 ton untuk membantu mengurai antrean kendaraan logistik.

Kepadatan atau stacking kendaraan besar di sekitar akses pelabuhan menjadi perhatian karena kendaraan tersebut membawa logistik dari sejumlah daerah, termasuk Banyuwangi, Jember, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo menuju wilayah Indonesia Timur.

“Logistik itu merupakan barang-barang yang dikirim dari Banyuwangi, dari Jember, dari Lumajang, Situbondo, Bondowoso, serta dari Probolinggo yang mengarah ke Indonesia Timur,” ujar Wahyudi.
BPH Migas bersama

Pertamina Patra Niaga, DPRD Jember, dan Hiswana Migas memastikan pemantauan distribusi BBM akan terus dilakukan.

Armada mobil tangki juga disiapkan dalam posisi siaga untuk menghadapi kemungkinan gangguan maupun lonjakan konsumsi masyarakat.

Wahyudi meminta masyarakat tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan ketika melihat antrean di SPBU.

Masyarakat diminta membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak ikut mengantre apabila kondisi SPBU sedang padat.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Jember, konsumsi dan gunakan BBM untuk keperluan sehari-hari. Kalau memang ada kepadatan, ada antrean, jangan dipaksakan ikut ngantri,” tegas Wahyudi.

Editor : Redaksi

Berita Terbaru