200 KK di Baratan Jember Krisis Air Bersih, BPBD Kirim 10 Ribu Liter

JEMBER (Realita) - Krisis air bersih mulai dirasakan ratusan warga di Lingkungan Baratan Timur, Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember.

Sedikitnya 200 kepala keluarga (KK) kini membutuhkan pasokan air bersih setelah sumur warga mengering dan sumber air di sekitar permukiman tak lagi bisa diandalkan.

Kondisi tersebut telah berlangsung sejak Agustus 2026. Selain sumur yang mulai mengering, sebagian sumber air warga juga berubah keruh.

Sungai yang berjarak sekitar 700 meter dari permukiman bahkan telah mengering sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air alternatif ke wilayah Baratan Wetan yang berjarak sekitar satu kilometer.

Sebagian warga lainnya terpaksa membeli air galon atau air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Penanganan kekeringan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Ketika sumber air warga sudah tidak mencukupi, distribusi air bersih menjadi langkah yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar,” kata Edy.

Menurut Edy, persoalan semakin berat karena sejumlah wilayah terdampak belum memiliki jaringan pipanisasi.

Karena itu, BPBD melakukan distribusi air sekaligus menyiapkan tandon di sejumlah titik agar bantuan dapat ditampung dan dimanfaatkan warga secara bersama-sama.

Pada Rabu, 7 Oktober 2026, BPBD Jember bersama Perumdam Tirta Pandalungan mendistribusikan 10 ribu liter air bersih ke Lingkungan Baratan Timur. Air tersebut disalurkan ke tandon BPBD yang telah ditempatkan di wilayah terdampak.

BPBD mencatat kebutuhan air bersih tersebar di empat titik. Di RT 02/RW 09 terdapat sekitar 40 KK yang membutuhkan air bersih, sedangkan di RT 03/RW 09 sekitar 50 KK. Sementara RT 02/RW 11 terdapat sekitar 80 KK dan RT 03/RW 11 sekitar 30 KK yang membutuhkan pasokan air.

Untuk mendukung penyaluran, sebanyak tujuh unit tandon BPBD berkapasitas 1.200 liter telah tersedia di lokasi. Keberadaan tandon tersebut diharapkan mempermudah warga mendapatkan air tanpa harus terus-menerus mencari sumber air hingga keluar wilayah permukiman.

Edy menegaskan, distribusi air tidak hanya dilakukan sekali. BPBD merekomendasikan pengiriman 10 ribu liter air setiap dua hari sekali selama kondisi kekeringan masih menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih.

“Distribusi akan dilakukan secara berkala berdasarkan kebutuhan dan hasil asesmen di lapangan. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan, RT/RW dan dinas terkait,” ujar Edy.

BPBD Jember juga meminta penanganan jangka panjang segera dilakukan, terutama untuk wilayah yang belum memiliki jaringan pipanisasi. Sebab, distribusi air melalui kendaraan tangki hanya menjadi solusi darurat selama sumber air warga belum kembali normal.

Krisis air bersih di Baratan Timur menjadi bagian dari dampak musim kemarau yang masih berlangsung di Jember. BPBD sebelumnya telah melakukan distribusi air bersih di sejumlah wilayah terdampak kekeringan di berbagai kecamatan.

Hingga kegiatan distribusi di Baratan Timur selesai pada Rabu malam, kondisi di lokasi dilaporkan aman dan terkendali. BPBD memastikan pemantauan dan distribusi akan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan warga.rd

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

Tan Kian Diperas  Rp55 Miliar

 JAKARTA- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Agung mendakwa mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Andriansyah menyalahgunakan …

Tak Punya Ijazah SMA, Gibran Ogah Mundur

 JAKARTA- Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) telah menolak gugatan diskualifikasi pencalonan Wapres Gibran Rakabuming Raka dalam putusan yang dibacakan pada …