Merry Hoegeng Tutup Usia, Polri Kehilangan Sosok Teladan

realita.co
Kenangan Kapolres Metro Depok Kombes Abdul Waras saat berkunjung ke kediaman Merry Hoegeng. (Foto: Humas)

DEPOK (Realita) - Kabar duka datang dari lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Merry Hoegeng, istri mendiang Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang dikenal sebagai ikon integritas Polri, meninggal dunia pada Selasa (3/2/2026).

Perempuan bernama lengkap Meriyati Roeslani itu mengembuskan napas terakhir pada usia 100 tahun sekitar pukul 13.24 WIB akibat sakit. 

Baca juga: Ada Lima Kategori, Polri Gelar Hoegeng Awards

Kepergian Merry Hoegeng menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi institusi Polri dan masyarakat luas.

“Hari ini kita dari jajaran kepolisian berduka atas meninggalnya almarhum Ibu Merry,” ucap Kapolres Metro Depok Kombes Abdul Waras kepada awak media.

Menurut Abdul Waras, mendiang Merry Hoegeng akan dimakamkan Rabu (4/2/2026).

“Informasi dari keluarga dimakamkan besok,” ungkap Abdul Waras.

Jenazah akan disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Pesona Khayangan Estate DG-DH 1 RT 003/028, Kelurahan Mekarjaya, Kota Depok.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi juga mengonfirmasi kabar duka tersebut.

Made menyebut Merry Hoegeng meninggal dunia karena sakit, meski sebelumnya masih dalam kondisi yang relatif baik.

“Terakhir ketemu masih sehat sih. Tiduran sih ya, tapi masih bagus kondisinya, masih ngomong, masih bisa foto-foto. Saya juga kaget mendengar kabar ini. Yang jelas kami sangat kehilangan ya,” ungkap Made.

Di mata jajaran kepolisian, tambah Made, sosok yang akrab disapa Eyang Merry dikenal sebagai figur ibu yang sederhana dan berprinsip kuat, meskipun mendampingi seorang Kapolri.

“Beliau hidup apa adanya, jauh dari gaya hidup mewah meski suaminya menjabat Kapolri,” ucap Made.

“Pendamping yang tegas menjaga integritas keluarga. Dikenal menolak fasilitas, hadiah, dan privilese yang tidak semestinya,” sambung Made.

Made menambahkan, nilai-nilai yang dipegang Merry Hoegeng sejalan dengan prinsip hidup sang suami, terutama dalam hal kejujuran dan etika.

“Bahkan pernah menolak bantuan atau pemberian dari pihak luar yang berpotensi melanggar etika. Menanamkan nilai kejujuran pada anak-anak,” ucap Made.

“Anak-anak keluarga Jenderal Hoegeng dibesarkan dengan nilai jujur, mandiri, dan tidak bergantung jabatan orang tua,” timpal Made.

Menurut Made, peran Merry Hoegeng menunjukkan bahwa integritas seorang pejabat publik juga sangat ditentukan oleh kekuatan nilai di dalam keluarga.

“Keteguhan sikap beliau memperkuat prinsip Hoegeng dalam menegakkan hukum tanpa kompromi,” tukas Made.

Merry Hoegeng diketahui lahir pada 23 Juni 1925 dan merupakan saksi hidup peristiwa heroik 3 Oktober 1945 di Pekalongan.

Di mana saat itu Merry Hoegeng turut membantu para pejuang yang menjadi korban pertempuran melawan tentara Jepang. hry

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru