Mengapa Syiah Berpusat di Iran?

realita.co
Perimgatan hari besar Umat Syiah. Foto: Igsyiahiran

FENOMENA bahwa Iran menjadi pusat penyebaran Syi'ah di dunia bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang, melibatkan faktor politik, sosial, dan ideologis sejak runtuhnya Kekaisaran Persia oleh kaum Muslimin pada abad ke-7 Masehi.

Memahami hal ini penting agar kaum Muslimin tidak melihat masalah ini secara dangkal, tetapi memahami akar historis dan ideologisnya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dan sejarawan Ahlus Sunnah.

Baca juga: Syiah Sujud di Atas Turbah Bertuliskan Nama Ali dan Husein

1. Persia Sebelum Islam Adalah Negeri Majusi.

Iran pada masa lampau dikenal dengan nama Persia, wilayah kekuasaan Kekaisaran Sassaniyah yang menjadikan agama Zoroastrianisme (Majusi) sebagai agama resmi negara.

Kaum Majusi memiliki sistem keagamaan yang menjadikan api sebagai simbol kesucian, dan para pendetanya (magi) memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan.
Kerajaan ini merupakan salah satu kekuatan dunia yang besar sebelum datangnya Islam, bersama dengan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

2. Penaklukan Persia oleh Kaum Muslimin.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu, kaum Muslimin berhasil menaklukkan Persia melalui beberapa pertempuran besar.
Di antara pertempuran penting tersebut adalah,
Battle of al-Qadisiyyah dan Battle of Nahavand.
Kemenangan tersebut menyebabkan runtuhnya kekuasaan Sassaniyah dan berakhirnya kekaisaran Persia.

Raja terakhir mereka, Yazdegerd III, akhirnya melarikan diri hingga terbunuh beberapa tahun kemudian. Penaklukan ini tidak hanya mengakhiri kekuasaan politik Persia, tetapi juga mengguncang struktur sosial dan agama mereka.

3. Reaksi Sebagian Kaum Persia terhadap Kekalahan Mereka.

Sebagian besar masyarakat Persia akhirnya menerima Islam dengan tulus dan menjadi bagian dari peradaban Islam. Bahkan dari wilayah Persia lahir banyak ulama besar Ahlus Sunnah seperti: Muhammad al-Bukhari, Muslim ibn al-Hajjaj, Al-Tirmidhi, Al-Nasa'i dll.

Namun sebagian kelompok lainnya masih menyimpan sentimen politik terhadap bangsa Arab yang telah menumbangkan kekuasaan mereka.

Beberapa sejarawan menyebut munculnya gerakan Syu'ubiyah, yaitu gerakan yang mengagungkan identitas Persia dan menentang dominasi Arab dalam dunia Islam.

Baca juga: Rasulullah Melarang Keras Praktik Meratap dan Tindakan Melukai Diri

4. Infiltrasi dan Munculnya Benih-benih Rafidhah.

Sebagian ulama Ahlus Sunnah menyebut bahwa gerakan yang kemudian dikenal sebagai Rafidhah (Syi'ah ekstrem) berkembang melalui infiltrasi ideologis ke dalam tubuh umat Islam. Tokoh yang sering disebut dalam literatur Ahlus Sunnah adalah Abdullah ibn Saba.

Dalam banyak kitab sejarah Ahlus Sunnah disebutkan bahwa ia mempromosikan gagasan ekstrem tentang Ali ibn Abi Thalib, bahkan menisbatkan kepadanya sifat-sifat yang tidak layak bagi manusia.

Ulama Ahlus Sunnah seperti Ibn Taymiyyah rahimahullah mengatakan dalam kitab Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah: "Akar kesesatan Rafidhah berasal dari kaum zindiq yang ingin merusak agama Islam dari dalam."

Demikian pula Al-Dhahabi rahimahullah menyebutkan bahwa kelompok Rafidhah dikenal dengan sikap ghuluw terhadap Ahlul Bait dan permusuhan terhadap banyak sahabat Nabi.

Baca juga: Teruntukmu yang Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Namun Menangisi Rofidhoh Iran

Iran Berabad-abad Lamanya adalah Negeri Sunni.

Satu fakta sejarah yang sangat penting adalah:

Iran sebenarnya merupakan negeri Sunni selama hampir 900 tahun setelah penaklukan Islam. Mazhab yang dominan di Persia kala itu adalah Hanafi dan Syafi'i. Banyak ulama besar Sunni lahir dari wilayah tersebut, yang menunjukkan bahwa Iran pada masa itu merupakan pusat keilmuan Ahlus Sunnah.

Perubahan Besar: Dinasti Safawi.

Perubahan besar terjadi ketika muncul Safavid Dynasty. Pendiri kerajaan ini adalah Shah Ismail I. Pada tahun 1501 M, ia menjadikan Syi'ah Imamiyah Dua Belas Imam sebagai mazhab resmi negara. Maka Sejak saat itu terjadi proses Syiahisasi Iran secara sistematis melalui Pemaksaan mazhab negara, Penyingkiran ulama Sunni, Perubahan khutbah Jumat, Dan Penyebaran doktrin Rafidhah melalui institusi negara. Sejarawan menyebut bahwa pada masa itu banyak wilayah Sunni di Persia dipaksa beralih ke Syi'ah melalui tekanan politik dan kekerasan militer hingga berujung pembantaian.inf

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru