Poon Lim, 133 Hari Terombang-ambing di Laut Pakai Rakit

realita.co
Kondisi Poon Lim saat ditemukan. Foto: Historybis

POON Lim terombang-ambang di tengah Samudra Atlantik, hanya dengan rakit kecil berukuran 2,5 meter persegi.

Tanpa kompas, air bersih yang hampir habis, dan dikelilingi predator laut, siapa pun akan menyerah. Namun Lim memulai  perjalanan bertahan hidup yang tak tertandingi.

Kejadian bermula pada 23 November 1942 saat kapal dagang Inggris SS Benlomond, tempat Lim bekerja sebagai pelayan kabin, diserang torpedo kapal selam Jerman.

Dalam dua menit, kapal itu tenggelam, dan Lim menjadi satu dari sedikit yang berhasil melompat ke laut.

Setelah dua jam terombang-ambang, ia menemukan rakit kayu darurat berisi persediaan minimal seperti sedikit biskuit, air, dan senter.

Tak seorang pun tahu bahwa 133 hari berikutnya akan menjadi ujian hidup mati baginya.

Ketahanan Lim lahir dari kecerdikan ekstrem. Air hujan ditampung dengan kanvas rakit, sementara alat seadanya diubah menjadi sarana bertahan hidup.

Ia membongkar senter untuk membuat kail pancing, menggunakan tali rakit sebagai garis, menangkap burung laut dengan tangan kosong, bahkan menaklukkan hiu kecil menggunakan jeriken.

Dalam kondisi paling ekstrem, ketika persediaan air bersih habis, Lim meminum darah hiu untuk tetap terhidrasi sementara. Kreativitas dan keberanian inilah yang membuatnya tetap hidup dalam kondisi paling brutal. Setelah ribuan mil mengarungi laut, tanda daratan mulai terlihat pada 5 April 1943.

Nelayan Brasil menemukannya dekat muara Sungai Amazon.

Meski kehilangan banyak berat badan, Lim masih bisa berjalan sendiri. Rekornya sebagai manusia yang bertahan hidup paling lama sendirian di laut membuatnya dianugerahi British Empire Medal oleh Raja George VI.

Poon Lim mengingatkan dunia dengan kata-katanya sederhana namun menakutkan "Saya harap tidak ada orang yang pernah memecahkan rekor ini".his

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru