Peri Farouk
Angka sering tampak lebih jujur daripada kata-kata. Dingin. Tidak berteriak. Tidak berdebat. Tetapi justru karena itu, ia sering mengganggu.
Baca juga: Donald Trump Ancam Hancurkan Iran Besok
Sebuah laporan yang beredar—International IQ Test 2026—menyajikan daftar yang tampak sederhana: negara-negara dengan rata-rata IQ tertinggi di dunia. Di sana, tiga besar ditempati oleh Korea Selatan (106,97), China (106,48), dan Jepang (106,3). Negara-negara yang sering disebut sebagai modern, rasional, bahkan oleh sebagian orang—agnostik dalam orientasi kebudayaannya.
Namun yang menarik justru bukan di tiga besar itu. Melainkan di posisi keempat: Iran, dengan skor 104,8. Sebuah angka yang datang dari sebuah negeri yang selama *hampir setengah abad hidup dalam tekanan: _sanksi, embargo, isolasi, dan dalam beberapa waktu terakhir, agresi militer terbuka dari Amerika Serikat dan Israel.*_ Sebuah negeri yang dalam narasi global sering digambarkan sebagai religius, ideologis, bahkan tertutup.
Namun angka itu berdiri. Dingin. Diam. Dan sulit diabaikan.
Di sisi lain, Amerika Serikat berada di peringkat ke-18 (101,04), sementara Israel di peringkat ke-48 (98,57). Angka-angka yang tidak rendah, tetapi cukup untuk menimbulkan satu pertanyaan yang mengganggu narasi lama: *apakah modernitas selalu identik dengan kecerdasan?* Atau lebih jauh: *apakah religiusitas selalu berlawanan dengan rasionalitas?*
Selama ini, ada asumsi yang jarang diuji: *bahwa masyarakat yang lebih sekuler cenderung lebih rasional, lebih ilmiah, lebih “maju” secara kognitif.* Sementara masyarakat yang religius sering ditempatkan dalam bayangan mitologi—lebih mengandalkan percaya daripada membuktikan.
Tetapi angka-angka itu, setidaknya, membuat asumsi itu goyah. Iran, dengan struktur sosial yang sangat dipengaruhi agama, justru menunjukkan capaian kognitif yang tinggi. Bukan dalam kondisi ideal, tetapi dalam tekanan yang hampir konstan.
Di titik itu, kita mulai melihat sesuatu yang lebih kompleks. Bahwa kecerdasan tidak lahir dari satu faktor tunggal. Ia tidak semata-mata produk sekularisasi. Ia juga tidak otomatis lahir dari religiusitas. Ia lahir dari kombinasi yang lebih rumit: *pendidikan, tekanan, sejarah, budaya, bahkan—mungkin—perasaan terancam.
Baca juga: Rudal Iran Hancurkan Pemukiman di Kota Petah Tikva, Israel
Sebuah masyarakat yang hidup dalam tekanan panjang sering dipaksa untuk berpikir lebih keras. Untuk beradaptasi. Untuk bertahan. Dalam konteks itu, kecerdasan bukan lagi kemewahan. Ia menjadi alat survival.
Namun di balik angka itu, ada ironi lain yang lebih sunyi. Jika benar bahwa kecerdasan terdistribusi secara luas—baik di masyarakat religius maupun sekuler—mengapa dunia tetap dipenuhi konflik yang tampak irasional? Mengapa bangsa-bangsa dengan tingkat pendidikan tinggi tetap terlibat dalam kekerasan yang berulang? Mengapa keputusan-keputusan besar dunia sering terasa lebih dekat pada naluri kekuasaan daripada pada nalar?
Barangkali karena kecerdasan tidak selalu identik dengan kebijaksanaan. IQ mengukur kemampuan berpikir. Ia tidak mengukur kemampuan menahan diri. Ia tidak mengukur empati. Ia tidak mengukur keadilan.
Di situlah batasnya. Sebuah bangsa bisa sangat cerdas, tetapi tetap memilih jalan yang keliru. Sebuah masyarakat bisa sangat rasional, tetapi tetap membenarkan kekerasan. Dan dalam dunia seperti itu, pertanyaan tentang “agnostis atau religius” menjadi kurang relevan. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar cara berpikir. Melainkan cara menjadi manusia.
Baca juga: Trump Desak Iran Akui Kekalahan
Maka judul ini mungkin terlalu sederhana untuk sebuah kenyataan yang terlalu rumit. Bukan soal kecerdasan para agnostis. Bukan pula soal mitologi para penganut agama. Yang lebih penting adalah: bagaimana kecerdasan itu digunakan.
Apakah ia dipakai untuk memahami—atau untuk membenarkan? Apakah ia dipakai untuk membangun—atau untuk mendominasi?
Iran, dengan segala paradoksnya, menjadi contoh yang mengganggu: sebuah negeri religius dengan tingkat kecerdasan tinggi, hidup dalam tekanan global, namun tetap bertahan.
Dan dunia, dengan seluruh klaim rasionalitasnya, tetap belum mampu menjawab satu pertanyaan paling sederhana: mengapa manusia yang semakin cerdas tidak otomatis menjadi semakin adil? Pertanyaan yang tidak memiliki angka. Ia hanya memiliki kegelisahan.
Editor : Redaksi