Senator Jatim Apresiasi Polrestabes Surabaya Bongkar Sindikat Joki UTBK

Reporter : Redaksi
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama

SURABAYA (Realita)— Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengapresiasi langkah Polrestabes Surabaya yang membongkar praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Sindikat tersebut diketahui telah beroperasi selama sembilan tahun.

Lia menilai pengungkapan kasus itu menjadi bukti keseriusan aparat dalam menjaga integritas proses seleksi masuk perguruan tinggi.

“Hal pertama adalah kita apresiasi tindak tegas dari Polrestabes Surabaya. Terlebih hingga saat ini pihak kepolisian masih terus berkoordinasi dengan Kemdiktisaintek untuk menindaklanjuti status 114 peserta yang telah lolos secara curang,” kata Lia dalam keterangannya, Ahad, 11 Mei 2026.

Senator yang akrab disapa Ning Lia itu mengatakan terbongkarnya sindikat joki UTBK dapat menjadi pengingat penting bagi generasi muda tentang arti kejujuran dan integritas.

Menurut dia, kecurangan dalam proses pendidikan pada akhirnya akan terbongkar dan menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Momen terbongkarnya sindikat UTBK ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama generasi muda, bahwa kecurangan pasti terbongkar. Apapun tujuan kita harus dilakukan secara jujur dan menjaga integritas,” ujarnya.

Lia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kepolisian, penyelenggara UTBK, dan perguruan tinggi untuk mencegah praktik serupa terulang. Ia mendorong kampus agar memberikan sanksi tegas jika menemukan mahasiswa yang diterima melalui jalur kecurangan.

Sebelumnya, Kapolrestabes Surabaya Komisaris Besar Luthfie Sulistiawan mengungkap sindikat joki UTBK tersebut memiliki jaringan yang terorganisasi dan mematok tarif hingga Rp 700 juta untuk meloloskan peserta ke perguruan tinggi favorit, terutama Fakultas Kedokteran.

Kasus itu terungkap saat pelaksanaan UTBK di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 21 April 2026. Polisi mencurigai seorang peserta berinisial HRS yang diduga menggantikan peserta asli asal Sumenep berinisial HER.

Kecurigaan muncul setelah pengawas menemukan ketidaksesuaian foto pada ijazah dengan wajah peserta yang mengikuti ujian. Dugaan itu semakin kuat ketika salah satu pengawas yang berasal dari Madura mengajak pelaku berbicara menggunakan bahasa Madura, namun tidak mendapat respons yang sesuai.

“Kebetulan saat itu salah satu pengawas juga orang Madura, tapi setelah tersangka ditanya pakai bahasa Madura, dia tidak bisa menjawab,” kata Luthfie, Kamis, 7 Mei 2026.yudhi

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru