FAKULTAS Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) bekerja sama dengan Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya (PSPK UB) menyelenggarakan kegiatan Training and Knowledge Sharing Program pada Senin–Selasa, 4–5 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia sekaligus mendukung internasionalisasi akademik di lingkungan FPIK UB.
Baca juga: Biaya Pakan Membengkak hingga 70 Persen, FPIK UB Hadirkan Solusi Efisiensi bagi Pembudidaya Lele
Program tersebut menghadirkan dua akademisi internasional dari Malaysia, yakni Assoc. Prof. Dr. Mohammad Tamrin bin Mohamad Lal dari Institut Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah, serta Dr. Muhammad Afiq bin Aziz dari Institute of Biological Sciences, Universiti Malaya. Peserta kegiatan terdiri atas laboran, peneliti, serta mahasiswa program Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3) di lingkungan FPIK UB.
Pada hari pertama, Senin (4/5/2026), Assoc. Prof. Dr. Mohammad Tamrin bin Mohamad Lal membawakan materi bertajuk Brine Shrimp Toxicity Assay. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) yang banyak digunakan dalam penelitian perikanan, kelautan, dan lingkungan sebagai metode uji toksisitas awal suatu senyawa atau bahan uji.
Materi yang disampaikan meliputi prinsip dasar pengujian, tahapan pelaksanaan, hingga interpretasi hasil penelitian. Diskusi berlangsung interaktif dengan tingginya antusiasme peserta, terutama terkait implementasi metode BSLT dalam pengembangan riset berbasis sumber daya hayati perairan.
Assoc. Prof. Dr. Mohammad Tamrin menyampaikan bahwa penguasaan metode pengujian toksisitas menjadi keterampilan penting dalam mendukung kualitas riset di bidang kelautan dan lingkungan.
Baca juga: FPIK UB and IIUM Join Forces through Adjunct Professor Program to Tackle Marine Plastic Pollution
“Metode BSLT merupakan pendekatan awal yang efektif dan efisien untuk mengidentifikasi potensi toksisitas suatu senyawa. Penguasaan teknik ini penting untuk mendukung pengembangan penelitian yang aplikatif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, pada hari kedua, Selasa (5/5/2026), Dr. Muhammad Afiq bin Aziz menyampaikan materi bertajuk One Health for the Next Generation. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan One Health sebagai konsep integratif yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Topik tersebut dinilai relevan dengan tantangan global saat ini, termasuk isu kesehatan lingkungan perairan, penyakit pada organisme akuatik, hingga keberlanjutan sistem pangan berbasis perikanan dan kelautan. Diskusi juga menyoroti pentingnya riset multidisiplin dan kolaborasi lintas bidang dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan dan kesehatan global.
Baca juga: Menembus Batas Negara, FPIK UB dan IIUM Bersatu Cari Solusi Inovatif Atasi Pencemaran Plastik Laut
“Generasi muda akademisi memiliki peran penting dalam mengembangkan pendekatan One Health melalui kolaborasi riset yang terintegrasi. Tantangan sektor perikanan dan kelautan saat ini membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang lintas disiplin,” jelas Dr. Muhammad Afiq.
Melalui kegiatan Training and Knowledge Sharing Program ini, FPIK UB dan PSPK UB terus memperkuat jejaring internasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang perikanan dan kelautan. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam mendorong pengembangan riset dan inovasi yang mampu menjawab tantangan sektor kelautan di tingkat nasional maupun global.
Program tersebut sejalan dengan komitmen FPIK UB dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 14 (Ekosistem Laut), SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Editor : Redaksi