KEDIRI (Realita) - Dinas Kesehatan Kota Kediri mencatat sebanyak 65 kasus HIV ditemukan selama Januari hingga Maret 2026. Mayoritas kasus didominasi kelompok usia produktif 20 hingga 30 tahun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri, Hendik Supriyanto mengatakan, sepanjang tahun 2025 terdapat 243 temuan kasus HIV dari layanan pemeriksaan di Kota Kediri.
Namun, tidak seluruh penderita berasal dari Kota Kediri. Sebab, layanan pemeriksaan HIV di Kota Kediri juga melayani masyarakat luar daerah.
“243 itu biasanya warga Kota Kediri hanya sekitar seperempatnya. Sisanya banyak dari luar wilayah, terutama kabupaten,” ujarnya.
Menurut Hendik, kelompok usia 20 sampai 30 tahun menjadi kelompok paling dominan terpapar HIV. Tingginya mobilitas serta perilaku seksual berisiko disebut menjadi salah satu faktor utama.
Ia menjelaskan, sekitar 90 persen penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual tidak sehat. Karena itu, edukasi terkait perilaku hidup sehat menjadi fokus utama pencegahan.
“Yang paling penting adalah upaya pencegahan melalui perubahan perilaku hidup sehat, seperti tidak melakukan hubungan seksual bebas dan setia pada pasangan,” jelasnya.
Selain edukasi, tantangan lain yang masih dihadapi adalah rendahnya kepatuhan sebagian pasien dalam menjalani pengobatan. Menurut Hendik, masih ada pasien yang berhenti terapi setelah dinyatakan positif HIV.
Padahal, pengobatan rutin sangat penting untuk menekan jumlah virus di dalam tubuh sehingga penderita tetap sehat dan risiko penularan menurun.
“Kalau tidak menjalani pengobatan, dalam satu sampai dua tahun biasanya bisa berkembang menjadi AIDS dan memicu penyakit lain seperti TBC,” katanya.
Dinas Kesehatan Kota Kediri juga mengingatkan masyarakat untuk tidak memberikan stigma maupun mengucilkan Orang Dengan HIV (ODHIV). Sebab, HIV tidak menular melalui kontak sosial biasa seperti bersalaman atau makan bersama.
“ODHIV tidak perlu dijauhi. Justru harus didukung supaya tetap sehat dan mau menjalani pengobatan dengan baik,” pungkasnya.nia
Editor : Redaksi