MALANG – Program Studi Agrobisnis Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), kembali menyelenggarakan kegiatan akademik bertaraf internasional melalui program 3 in 1 yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kualitas pembelajaran berbasis global sekaligus peningkatan kompetensi mahasiswa di bidang akuakultur dan manajemen risiko.
Program ini mengangkat tema “Risk Management in Aquaculture: From Farm Uncertainty to Sustainable Profitability” dengan fokus pada pengelolaan risiko dalam mendukung keberlanjutan dan profitabilitas usaha budidaya perikanan. Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi pembelajaran yang menghadirkan akademisi dari Universiti Putra Malaysia, Dr. Shazrul Ekhmar Abdul Razak, sebagai narasumber utama.
Sesi pertama yang berlangsung pada 16 April 2026 membahas subtopik “Understanding Uncertainty and Risk in Aquaculture Farming”. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar ketidakpastian dan berbagai risiko dalam kegiatan budidaya perikanan, mulai dari faktor lingkungan, biologis, hingga ekonomi.
Selanjutnya, sesi kedua yang dilaksanakan pada 23 April 2026 mengangkat subtopik “Managing Risk for Sustainable and Profitable Aquaculture”. Pembahasan difokuskan pada strategi pengelolaan risiko yang efektif guna menjaga keberlanjutan usaha sekaligus meningkatkan keuntungan dalam jangka panjang.
Dalam pemaparannya, Dr. Shazrul Ekhmar Abdul Razak menegaskan bahwa sektor akuakultur merupakan industri yang sangat rentan terhadap berbagai bentuk ketidakpastian sehingga memerlukan pendekatan manajemen risiko yang sistematis dan adaptif.
“Aquaculture is highly exposed to environmental and economic uncertainty. Therefore, risk management must become an integral part of decision-making to maintain sustainability and profitability,” ujarnya.
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah mengenai qualitative risk assessment, yaitu metode penilaian risiko menggunakan kategori deskriptif seperti rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan pengalaman serta pertimbangan praktis. Pendekatan tersebut dinilai efektif, terutama ketika data kuantitatif masih terbatas.
Selain itu, narasumber juga menjelaskan pentingnya penggunaan berbagai tools dalam manajemen risiko untuk membantu pelaku usaha menentukan prioritas risiko dan strategi mitigasi yang tepat.
“Risk assessment tools help aquaculture businesses identify critical issues earlier and improve strategic responses to uncertainty,” jelasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang diampu oleh Riski Agung Lestariadi, S.Pi., M.P., Ph.D., dengan dukungan panitia yang dikoordinatori oleh Dr. Tiwi Nurjannati Utami. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi melalui diskusi aktif dan sesi tanya jawab bersama narasumber.
Baca juga: FPIK UB Perkuat Kolaborasi Global melalui Training and Knowledge Sharing Bersama Akademisi Malaysia
Melalui program 3 in 1 ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan wawasan global serta keterampilan analitis dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko di sektor akuakultur. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi internasional dan menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan industri budidaya perikanan modern.
Program ini sejalan dengan komitmen FPIK UB dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 14 tentang Ekosistem Laut melalui pengembangan praktik akuakultur yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.
Editor : Redaksi