TRENGGALEK – Selama ini mangrove lebih dikenal sebagai benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi. Namun, bagi masyarakat pesisir, hutan mangrove juga menyimpan potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan apabila dikelola secara berkelanjutan. Berangkat dari gagasan tersebut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) bersama Pokmaswas Kejung Samudra mengembangkan model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis ekonomi hijau di kawasan Mangrove Pancer Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Program yang dilaksanakan pada 27–28 Juni 2026 ini merupakan bagian dari Program Dosen Berkarya (DOKAR) Universitas Brawijaya Tahun 2026. Melalui pendekatan yang memadukan konservasi lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat, FPIK UB mendorong pengelolaan mangrove yang tidak hanya menjaga kelestarian ekosistem, tetapi juga membuka peluang usaha yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Tim pengabdian dipimpin oleh Agus Dwi Sulistyono, S.Si., M.Si., bersama Prof. Dr. Ir. Edi Susilo, M.S., Wahyu Handayani, S.Pi., MBA., M.P., Dr. Ir. Anthon Efani, M.P., Dr. Zainal Abidin, S.Pi., MBA., M.P., Mariyana Sari, S.Pi., M.P., Wildan Al Farizi, S.E., M.Ling., dan Lina Asmara Wati, S.Pi., M.P., M.B.A.. Selama dua hari, tim melaksanakan survei lapangan, penyuluhan, pelatihan, diskusi kelompok, pendampingan kelembagaan, hingga penanaman bibit mangrove bersama masyarakat.
Ketua tim pengabdian, Agus Dwi Sulistyono, menjelaskan bahwa ekonomi hijau menjadi pendekatan utama karena mampu menghubungkan kepentingan konservasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Mangrove merupakan modal alam yang sangat berharga. Apabila dikelola secara bijaksana, mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pesisir dan penyerap karbon, tetapi juga mampu menjadi sumber penghidupan melalui pengembangan ekowisata, edukasi lingkungan, maupun usaha berbasis hasil hutan mangrove. Karena itu kami mengembangkan model pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama," jelasnya.
Pendekatan tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, SDG 13 (Climate Action) melalui rehabilitasi mangrove sebagai penyerap karbon alami, SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 15 (Life on Land) melalui perlindungan ekosistem pesisir dan daratan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok masyarakat dalam membangun kawasan pesisir yang berkelanjutan.
Wakil Dekan I FPIK UB, Riski Agung Lestariadi, S.Pi., M.P., Ph.D., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus mampu menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar kegiatan seremonial.
"Universitas Brawijaya terus mendorong dosen untuk menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di masyarakat. Program ini menjadi contoh bagaimana keilmuan dipadukan dengan pengalaman masyarakat sehingga menghasilkan solusi yang berkelanjutan bagi kawasan pesisir," ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Departemen Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan FPIK UB, Dr. Tiwi Nurjannati Utami, S.Pi., M.M., yang menilai keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat bergantung pada kekuatan kelembagaan masyarakat.
"Konservasi tidak akan berhasil tanpa masyarakat yang kuat. Karena itu, selain menanam mangrove, kami juga memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengelola kawasan pesisir sekaligus memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan," tuturnya.
Ketua Pokmaswas Kejung Samudra, Imam Syaifuddin, mengaku pendampingan yang dilakukan FPIK UB memberikan perspektif baru mengenai pengelolaan mangrove.
"Selama ini kami fokus menjaga kawasan mangrove. Melalui pendampingan ini kami memahami bahwa mangrove juga dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat tanpa harus mengurangi fungsi ekologisnya. Pengetahuan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan kawasan kami ke depan," ungkapnya.
Selain penyuluhan dan diskusi, kegiatan ditutup dengan penanaman mangrove sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga kawasan pesisir. Lebih dari sekadar rehabilitasi lingkungan, kegiatan ini menjadi langkah awal membangun model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan konservasi, penguatan kelembagaan, dan pengembangan ekonomi hijau.
Melalui kolaborasi bersama Pokmaswas Kejung Samudra, FPIK Universitas Brawijaya berharap model pemberdayaan ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Dengan menjadikan masyarakat sebagai aktor utama, mangrove tidak hanya akan tetap lestari sebagai pelindung pesisir, tetapi juga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Editor : Redaksi