JEMBER (Realita) - Pemerintah Kabupaten Jember mencatat capaian positif dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Juni 2026, tingkat inflasi tahunan (year on year/YoY) Kabupaten Jember berada di angka 3,13 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen.
Bupati Jember, Gus Fawait, menyebut keberhasilan tersebut menjadi indikator bahwa upaya pengendalian harga kebutuhan pokok di Jember berjalan efektif. Stabilnya inflasi dinilai berkontribusi terhadap terjaganya daya beli masyarakat dan iklim usaha di daerah.
"Inflasi yang terkendali adalah hasil kerja bersama. Mari kita terus jaga stabilitas harga untuk kesejahteraan masyarakat Jember," ujar Gus Fawait, Selasa (7/7/2026).
Data BPS menunjukkan, inflasi bulanan (month to month/MtM) Kabupaten Jember pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,11 persen dibandingkan Mei 2026. Sementara inflasi sejak awal tahun (year to date/YtD) berada di angka 1,35 persen, menandakan kenaikan harga barang dan jasa sepanjang semester pertama masih dapat dikendalikan.
Menurut Gus Fawait, capaian tersebut memperlihatkan harga kebutuhan masyarakat relatif stabil. Kondisi itu menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak di tengah dinamika ekonomi global.
"Inflasi tahunan Jember sebesar 3,13 persen masih berada dalam rentang sasaran nasional, bahkan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen," kata Gus Fawait.
Berdasarkan catatan Pemkab Jember, tren inflasi tahunan selama satu tahun terakhir mengalami dinamika. Pada Juni 2025 inflasi tercatat 1,70 persen, kemudian meningkat menjadi 2,01 persen pada Juli, 2,06 persen pada Agustus, 2,44 persen pada September, 2,53 persen pada Oktober, 2,44 persen pada November, dan 2,77 persen pada Desember.
Memasuki 2026, inflasi berada di angka 2,80 persen pada Januari dan sempat melonjak hingga 4,86 persen pada Februari. Namun, melalui berbagai langkah pengendalian, inflasi berhasil ditekan menjadi 3,88 persen pada Maret, turun lagi menjadi 2,88 persen pada April, naik tipis menjadi 3,52 persen pada Mei, lalu kembali melandai ke posisi 3,13 persen pada Juni 2026.
"Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa berbagai intervensi pemerintah mampu menjaga stabilitas harga dan mengembalikan inflasi ke level yang lebih terkendali," ujarnya.
Gus Fawait menjelaskan, inflasi yang terkendali memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Harga kebutuhan pokok di pasar tradisional maupun modern relatif stabil, daya beli masyarakat tetap terjaga, dunia usaha memiliki kepastian dalam menjalankan aktivitas ekonomi, serta pendapatan riil warga tidak tergerus akibat lonjakan harga.
Untuk mempertahankan kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember menjalankan empat strategi utama. Pertama, menjaga produktivitas sektor pertanian lokal sekaligus memastikan distribusi hasil panen berjalan lancar. Kedua, menggelar operasi pasar dan pasar murah secara berkala guna menstabilkan harga pangan.
Strategi berikutnya adalah memperkuat peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui sinergi bersama Bank Indonesia, Bulog, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan. Selain itu, pemerintah juga memastikan sistem transportasi dan logistik berjalan efektif agar pasokan barang tetap terjaga dan tidak memicu kelangkaan.
"Dengan ekonomi yang stabil, kita optimistis masyarakat Jember akan semakin sejahtera. Komitmen ini akan terus kita kawal bersama," pungkas Gus Fawait.rdy
Editor : Redaksi