Ratusan Miliar Rupiah APBD Jatim Sudah Digelontorkan, Puspa Agro Tetap Sepi: Publik Marah, Pejabat dan Pengelola Bungkam

realita.co
Bagian depan Puspa Agro yang tampak tak terawat dan penuh lubang. Foto: Tyan

SIDOARJO (Realita)– Gelontoran dana ratusan miliar rupiah dari APBD Jawa Timur untuk membangun Pasar Induk Puspa Agro kembali menjadi sorotan.

Di tengah kondisi pasar yang masih sepi, banyak kios tutup, dan aktivitas perdagangan yang belum menggeliat, publik mempertanyakan ke mana arah pengelolaan kawasan yang sejak awal digadang-gadang menjadi pusat agrobisnis terbesar di Indonesia itu.

Baca juga: Akun Media Sosial Puspa Agro Hanya Dipenuhi Ucapan Seremonial, Sosiolog UTM: Publik Bisa Menilai Tak Ada Kinerja

Lapak-lapak yang tampak kumuh. Foto: Tyan

Berdasarkan berbagai data, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mengucurkan penyertaan modal, investasi, dan belanja APBD yang nilainya mencapai sekitar Rp585 miliar. Dana tersebut digunakan untuk penyertaan modal perusahaan, pembangunan kawasan seluas 47 hektare, infrastruktur, hingga dukungan akses menuju kawasan Puspa Agro.

Namun, besarnya investasi itu dinilai belum berbanding lurus dengan kondisi di lapangan. Banyak lapak dilaporkan kosong, sejumlah bangunan terbengkalai, dan aktivitas perdagangan jauh dari harapan.

Toko-toko pun tampak tak berpenghuni. Foto: Tyan

Persoalan semakin mengundang tanda tanya setelah Komisi C DPRD Jawa Timur menyebut Puspa Agro telah memperoleh keuntungan. Pernyataan itu justru memicu pertanyaan publik mengenai sumber keuntungan tersebut, mengingat kondisi pasar masih tampak lesu.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Jatim Grha Utama (JGU), Mirza Muttaqien, belum memberikan penjelasan kepada media.

Toko yang kosong melompong. Foto: Tyan

Pada Jumat (26/6/2026), wartawan telah mengirimkan sejumlah pertanyaan melalui WhatsApp mengenai kondisi Puspa Agro, penggunaan penyertaan modal daerah, kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), hingga sumber keuntungan yang disebut DPRD. Namun hingga berita ini disusun, tidak ada jawaban maupun klarifikasi dari pihak PT JGU.

 

Sorotan juga mengarah kepada Ketua Pansus BUMD DPRD Jawa Timur, Agung Mulyono, yang dinilai belum memberikan penjelasan tegas mengenai kondisi Puspa Agro. Situasi tersebut memunculkan kesan saling lempar tanggung jawab di tengah tuntutan publik akan transparansi penggunaan uang rakyat.

Baca juga: Ratusan Miliar Digelontorkan, Puspa Agro Disorot! Guru Besar Unair Tuntut Transparansi, Pakar Hukum Desak Audit

 

Padahal, sebelumnya sejumlah anggota DPRD Jawa Timur juga pernah mengkritik Puspa Agro yang dinilai belum optimal dan membebani keuangan daerah. DPRD bahkan pernah merekomendasikan restrukturisasi sejumlah anak perusahaan BUMD serta evaluasi operasional sebagai langkah perbaikan.

Selain penyertaan modal sekitar Rp350 miliar yang kemudian berkembang hingga total investasi sekitar Rp585 miliar, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mengalokasikan sekitar Rp20 miliar dalam Perubahan APBD 2020 untuk pembebasan lahan akses Jalan Raya Kletek menuju Puspa Agro. Bahkan sempat diwacanakan pembangunan akses tol dengan estimasi anggaran sekitar Rp200 miliar.

Besarnya dana tersebut membuat masyarakat mempertanyakan tingkat pengembalian investasi dan kontribusi Puspa Agro terhadap PAD Jawa Timur.

Lapak yang kosong terbengkalai. Foto: Tyan

Kekecewaan masyarakat pun semakin menguat. Sutrisno (52), warga Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo, mengatakan kondisi Puspa Agro sudah bertahun-tahun tidak menunjukkan perubahan berarti.

Baca juga: Guru Besar Unair: Puspa Agro Tak Cuma Soal Untung Rugi, tapi juga Harus Dipertanggungjawabkan ke Masyarakat

"Kalau memang sudah untung, untungnya dari mana? Kami yang setiap hari lewat melihat sendiri banyak kios tutup. Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan klaim, tetapi penjelasan. Jangan diam saja seolah tidak ada masalah," ujarnya, Kamis (02/07/2026)

Senada, Rina (34), warga Surabaya Barat, menilai sikap pejabat yang memilih bungkam justru memperbesar kecurigaan publik.

"Uang yang dipakai itu uang rakyat. Kalau kondisinya bagus tentu masyarakat ikut bangga. Tapi kalau kenyataannya sepi lalu pejabat dan pengelolanya memilih diam, wajar kalau masyarakat kecewa. Jangan terkesan saling menutupi," katanya.

Sementara itu, Ahmad Fauzi (41), warga Surabaya Selatan, mengaku heran dengan lambannya respons para pemangku kebijakan.

"Yang membuat masyarakat kesal bukan hanya kondisi Puspa Agro, tetapi karena pejabat yang seharusnya memberi penjelasan justru bungkam. Kesannya seperti masalah ini dibiarkan begitu saja. Publik berhak tahu ke mana ratusan miliar uang daerah digunakan dan apa hasilnya," tuturnya.tyan

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru