Dari Pekarangan Menjadi Peluang Usaha

Inovasi ‘Herbiz’ Bangkitkan Potensi Ekonomi Warga RW 08 Kelurahan Banyu Urip  

realita.co
Melalui Herbiz, mahasiswa KKN memperkenalkan alternatif pemanfaatan dengan mengolahnya menjadi sirup. 

SURABAYA, BANYU URIP - Melimpahnya hasil alam seringkali luput dari perhatian jika tidak dibersamai dengan inovasi. Hal ini yang menjadi sorotan utama Mahasiswa KKN SDG's Kelompok 9 UPN Veteran Jawa Timur.

Melalui program kerja berjudul “HERBIZ: Herbal Bisnis", mereka sukses menggelar demonstrasi pengolahan belimbing wuluh beserta bunganya untuk dijadikan produk berupa sirup bernilai ekonomis pada Kamis (13/08) di Balai RW 08 Girilaya, Kelurahan Banyu Urip, Surabaya. 

Baca juga: Pernah Terima JKM, Sadar Pentingnya Perlindungan BPJAMSOSTEK

Memaksimalkan Potensi Lokal yang Terabaikan  

Inisiatif ini lahir dari pengamatan mahasiswa terhadap banyaknya pohon belimbing wuluh yang tumbuh subur di wilayah RW 08 Girilaya. Sayangnya, pemanfaatan buah yang terkenal dengan cita rasa sangat asam ini masih sangat terbatas di kalangan masyarakat. 

Kondisi tersebut menjadi peluang yang coba dikembangkan mahasiswa KKN. Alih-alih membiarkan hasil panen berlebih terbuang karena tidak tahan lama, belimbing wuluh diperkenalkan melalui bentuk olahan yang memiliki masa simpan lebih panjang dan dapat dikemas sebagai produk konsumsi. 

Ketua RW 8 Girilaya, Bapak Hadi Prayitno, menyambut baik dan menilai program mahasiswa ini sangat tepat sasaran dengan kondisi demografis wilayahnya. 

"Mengingat di kampung kami ini kebetulan banyak warga yang menanam pohon belimbing wuluh. Sehingga kalau tidak dimanfaatkan, belimbing wuluh itu tidak tahan lama, kemudian banyak yang terbuang," ungkap Hadi. 

Pernyataan tersebut menunjukkan persoalan yang hendak dijawab Herbiz bukan semata soal pengolahan makanan. Lebih jauh, program ini mencoba mengubah cara pandang masyarakat terhadap sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka. 

Mengubah Belimbing Wuluh Menjadi Produk Bernilai Jual 

Selama ini, rasa asam yang kuat membuat belimbing wuluh lebih umum digunakan sebagai pelengkap masakan. Melalui Herbiz, mahasiswa KKN memperkenalkan alternatif pemanfaatan dengan mengolahnya menjadi sirup. 

Bagi masyarakat yang mengikuti demonstrasi, inovasi tersebut menjadi pengalaman baru. Bunda Nita, perwakilan Kader Surabaya Hebat (KSH) RT 6, mengaku sebelumnya belum mengetahui bahwa belimbing wuluh dapat diolah menjadi sirup. 

“Programnya memang penting ya, Mas. Karena belimbing wuluh itu selain dibuat sayur, ternyata bisa untuk sirup. Sangat mengesankan sekali karena itu pengalaman pertama bagi saya mengetahui cara membuat sirup dari belimbing wuluh,” ujar Bunda Nita. 

Pengolahan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana bahan baku sederhana dapat dikembangkan menjadi produk dengan bentuk konsumsi yang berbeda. Jika dikelola secara konsisten, inovasi semacam ini berpotensi menjadi pintu masuk bagi pengembangan produk lokal berbasis sumber daya yang tersedia di lingkungan warga. 

Dari Pelatihan Menuju Kemandirian Ekonomi 

Namun, tantangan terbesar dari program pemberdayaan bukan terletak pada keberhasilan membuat produk untuk pertama kalinya. Persoalan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dapat terus diproduksi, dikemas, dipasarkan, dan memiliki konsumen. 

Karena itu, keberlanjutan menjadi aspek penting dalam program Herbiz. Produk sirup belimbing wuluh memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, mulai dari penentuan identitas produk, kemasan, penetapan harga, hingga strategi pemasaran. 

Bagi masyarakat, langkah tersebut dapat menjadi awal untuk mengembangkan produk rumahan dari bahan baku yang selama ini tersedia di sekitar mereka. 

Baca juga: Pertama di Indonesia, Madurasa Luncurkan Kemasan Botol Terbalik

Hadi Prayitno berharap inovasi yang diperkenalkan mahasiswa tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. 

“Harapan kedepannya agar bisa bermanfaat bagi warga. Kemudian warga bisa diberdayakan agar olahan ini memiliki nilai ekonomis dan bisa menambahkan pendapatan,” tuturnya. 

Harapan tersebut juga mulai mendapat respons dari warga. Bunda Nita berencana mencoba kembali pembuatan sirup secara mandiri sebelum mengajak masyarakat di sekitarnya untuk ikut mempraktikkan. 

“Setelah ini akan saya produksi untuk keluarga saya. Lalu saya akan membuat lagi untuk tetangga-tetangga saya barangkali berkenan, nanti bisa praktik bersama-sama,” tambahnya. 

Langkah kecil tersebut menjadi indikasi bahwa transfer pengetahuan dalam kegiatan tidak berhenti pada demonstrasi. Warga mulai melihat kemungkinan untuk mereplikasi proses pengolahan di tingkat rumah tangga. 

Ketika KKN Menjadi Pemantik Inovasi  

Program Herbiz pada akhirnya memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari sumber daya yang besar. Potensi tersebut dapat muncul dari sesuatu yang sudah tumbuh dan tersedia di lingkungan warga, tetapi belum memperoleh sentuhan inovasi. 

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 9, kegiatan ini menjadi bentuk penerapan pengetahuan sekaligus upaya membaca kebutuhan masyarakat secara langsung. Sementara bagi warga, pengolahan belimbing wuluh membuka alternatif baru untuk memanfaatkan hasil pekarangan agar tidak sekadar dikonsumsi sendiri atau terbuang. 

Baca juga: Pemilik Jamu Herbal Akar Dewa Bagikan Produknya Untuk Tingkatkan Imun Lawan Covid-19

 

Hadi Prayitno pun memberikan apresiasi terhadap mahasiswa yang telah membawa gagasan tersebut ke lingkungan RW 08 Girilaya. 

“Girilaya Berkarya, Semangat!” serunya. 

Bunda Nita turut menyampaikan harapan agar pengetahuan yang dibagikan dapat diteruskan dan memberikan manfaat lebih luas. 

“Sukses selalu mahasiswa UPN! Semoga apa yang diberikan bermanfaat untuk saya, orang lain, dan masyarakat di sekitar.” 

Pada akhirnya, keberhasilan Herbiz tidak hanya dapat diukur dari berapa banyak botol sirup yang dihasilkan dalam satu kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah belimbing wuluh yang sebelumnya dianggap biasa dapat berubah menjadi komoditas yang memiliki nilai, serta apakah pengetahuan yang diberikan mampu bertahan dan berkembang setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN. 

Dari pekarangan rumah warga, peluang itu bermula. Kini, tantangannya adalah bagaimana mengubah satu inovasi sederhana menjadi produk lokal yang benar-benar mampu bertahan dan memberi tambahan nilai ekonomi bagi masyarakat Girilaya. 

Penulis: Ardhena Vareldio Pratama Hadianto, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur  
 

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru