Usai Dinobatkan “Raja Timur” di NTT, Jokowi Belum Juga Muncul Saat Flores Diguncang Gempa 

realita.co
Jokowi saat dinobatkan sebagai Raja Timur. Foto: PSI

JAKARTA (Realita)- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Bencana tersebut memicu keprihatinan luas setelah sejumlah wilayah terdampak dan warga harus mengungsi.

Di tengah situasi tersebut, perhatian warganet turut tertuju pada sosok Joko Widodo yang sebelumnya ramai disebut mendapat gelar “Raja Timur” dalam kunjungannya ke NTT pada awal Agustus 2026.

Baca juga: Penobatan Jokowi Jadi “Raja Timur” Terus Dibanjiri Penolakan, Mulai Tokoh Adat hingga Imam Katolik

Pertanyaan bernada kritis kemudian bermunculan di media sosial: di mana “Raja Timur” ketika Flores sedang dilanda bencana?

Sorotan itu muncul bersamaan dengan pemberitaan mengenai sejumlah tokoh yang turun langsung ke lokasi terdampak. Ganjar Pranowo dan Tri Rismaharini, misalnya, dilaporkan telah tiba di Labuan Bajo dan menemui warga terdampak gempa bersama tim bantuan PDI Perjuangan. 

Namun, narasi mengenai “Raja Timur” sendiri perlu ditempatkan secara hati-hati. Perkumpulan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban telah memberikan klarifikasi bahwa Jokowi tidak pernah secara resmi dinobatkan sebagai Raja Timur. Menurut mereka, prosesi yang berlangsung merupakan bentuk penghormatan adat kepada Jokowi sebagai tamu kehormatan.

Meski demikian, perdebatan di media sosial terus bergulir. Bagi sebagian warganet, persoalannya bukan semata soal gelar, melainkan kehadiran dan kepedulian terhadap masyarakat NTT ketika bencana benar-benar terjadi.

Di tengah duka warga Flores, pertanyaan publik pun sederhana: siapa yang hadir ketika rakyat membutuhkan bantuan?ah

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru