JOMBANG (Realita) – Dukungan terhadap pengasuh Pondok Pesantren Madrosatul Qur’an Tebuireng, KH Musta’in Syafi’ie atau Kiai Tain, terus mengalir. Sejumlah Nahdliyin menggelar deklarasi dukungan di kompleks makam KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, Tambakberas, Jombang, Rabu (25/8/2026).
Deklarasi tersebut digelar menyusul langkah hukum yang ditempuh tim kuasa hukum Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar terhadap Kiai Tain. Sebelumnya, Kiai Tain disebut mendapat somasi dan dilaporkan ke Bareskrim Polri terkait dugaan pencemaran nama baik.
Baca juga: 99 Masjid Ramah Muktamirin, Jombang Siapkan Tempat Singgah bagi Tamu Muktamar NU ke-35
Koordinator deklarasi, Solihin, mengatakan dukungan diberikan karena pihaknya menilai pernyataan Kiai Tain merupakan bentuk kritik moral terhadap kondisi dan arah perjalanan organisasi NU.
Menurut dia, kritik dari kalangan ulama maupun warga Nahdliyin seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi pengurus organisasi, bukan langsung berujung pada persoalan hukum.
“Bagi kami, narasi Yai Tain adalah refleksi yang semestinya diterima sebagai pengingat oleh pengurus PBNU. Ini soal standar moral seorang Rais Aam dan bagaimana NU kembali kepada kesederhanaan yang diwariskan para muassis,” kata Solihin.
Sebelum deklarasi, peserta terlebih dahulu melakukan tawassul di makam Mbah Wahab. Mereka kemudian menyampaikan pernyataan sikap dengan mengenakan kaos putih bertuliskan “KPK NU”.
Solihin mengatakan pemilihan makam Mbah Wahab sebagai lokasi deklarasi bukan tanpa alasan. Tempat tersebut dinilai menjadi simbol untuk mengingat kembali perjuangan dan keteladanan para pendiri NU.
Ia menilai kritik yang disampaikan Kiai Tain berkaitan dengan upaya menjaga moralitas dan marwah organisasi.
“Bagaimana mungkin sebuah gerakan moral, pengingat akhlak, dan pesan untuk menjaga marwah NU justru dianggap mencemarkan nama baik?” ujarnya.
Baca juga: Di Balik Gemerlap Muktamar NU ke-35, Pedagang Pentol Kecil Harus Gigit Jari
Menurut Solihin, munculnya somasi dan laporan terhadap Kiai Tain tidak membuat kelompoknya menarik dukungan. Sebaliknya, persoalan tersebut membuat mereka semakin terdorong untuk menyuarakan pentingnya ruang kritik di tubuh NU.
“Justru dengan dilaporkannya Yai Tain, kami semakin yakin bahwa pesan tentang pentingnya menjaga moralitas dan marwah NU harus terus disuarakan,” katanya.
Selain menyatakan dukungan terhadap Kiai Tain, peserta deklarasi juga menyerukan agar pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas berjalan sesuai nilai-nilai yang diwariskan para muassis.
Solihin meminta PWNU dan PCNU ikut menjaga agar Muktamar tidak terjebak dalam kepentingan politik transaksional.
Baca juga: Keserakahan di Balik Hiruk-Pikuk Muktamar NU ke-35?
“Kami meminta kepada PWNU dan PCNU, tolong jaga Muktamar NU ini. Jangan jadikan Muktamar sebagai ajang politik transaksional. Malu kepada Mbah Wahab,” ujarnya.
Ia menegaskan kelompoknya akan ikut mencermati jalannya Muktamar. Apabila menemukan dugaan praktik yang dinilai tidak sesuai dengan aturan atau prinsip organisasi, mereka mengaku akan mengumpulkan bukti dan menyampaikannya melalui mekanisme yang tersedia.
Solihin mengatakan pengawalan tersebut bukan ditujukan untuk mengintimidasi pihak tertentu. Menurutnya, langkah itu merupakan bentuk kepedulian agar Muktamar NU berlangsung bermartabat dan tetap menjaga marwah organisasi.
Deklarasi di makam Mbah Wahab sekaligus menjadi ruang bagi para pendukung Kiai Tain untuk menyampaikan pesan bahwa kritik terhadap kepemimpinan NU, menurut mereka, merupakan bagian dari upaya menjaga organisasi agar tetap berada dalam garis perjuangan para muassis.rif
Editor : Redaksi