BALI – Tinta cumi yang selama ini dikenal sebagai bagian dari hasil perikanan kini dikembangkan menjadi inovasi bernilai tambah untuk mendukung kesehatan udang vaname. Melalui Program Dosen Berkarya, tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) bersama CV Multi Benih Bali mengembangkan Nano-Avibro, biostimulan berbasis serbuk tinta cumi yang dirancang untuk membantu menekan risiko vibriosis pada budidaya udang. Dalam pengamatan lapangan di kolam mitra, udang yang mendapatkan aplikasi Nano-Avibro mencatat tingkat kelangsungan hidup sebesar 89,3 persen hingga hari ke-60 pemeliharaan.
Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Mohamad Fadjar, M.Sc., bersama Cucun Herlina, S.Pi., M.P., dan Febriyani Eka Supriatin, S.Si., M.Si., dari Program Studi Budidaya Perairan FPIK UB. Kolaborasi dengan CV Multi Benih Bali menjadi langkah untuk membawa pengembangan produk dari lingkungan akademik ke praktik produksi, sekaligus mengevaluasi penerapan dan potensinya dalam mendukung manajemen kesehatan udang. Ketua Program Dosen Berkarya, Prof. Fadjar, menjelaskan bahwa Nano-Avibro dikembangkan dengan memanfaatkan serbuk tinta cumi yang diaplikasikan melalui pakan sehingga lebih praktis digunakan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.
Baca juga: 1.000 Tukik Kembali ke Laut, Mahasiswa FPIK UB Ajak Masyarakat Jaga Masa Depan Penyu
Kepraktisan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan produk ini. Nano-Avibro diaplikasikan dengan dosis 500 miligram per kilogram pakan, setara dengan 0,5 gram untuk setiap kilogram pakan. Penerapannya dipadukan dengan pengelolaan kolam yang mencakup penggunaan probiotik berbasis Bacillus dan Lactobacillus, pengisian air hingga ketinggian 1,5 meter, serta pengoperasian empat unit kincir. Pada fase awal pemeliharaan, pemberian pakan dilakukan menggunakan metode blind feeding, yaitu berdasarkan jadwal dan jumlah yang telah ditetapkan. Pendekatan ini menempatkan Nano-Avibro sebagai bagian dari pengelolaan budidaya terpadu, bukan sebagai satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan dan produktivitas udang.
Hasil pengamatan pada kolam seluas 730 meter persegi dengan jumlah tebar awal 110.000 ekor menunjukkan biomassa udang sekitar 1,21 ton pada hari ke-60 pemeliharaan. Bobot rata-rata udang mencapai 12,34 gram per ekor, atau sekitar 81 ekor per kilogram, dengan rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR) sebesar 1,20. Direktur CV Multi Benih Bali, Ir. Usama Umar, selaku mitra pengguna, menilai hasil awal tersebut menjanjikan dan menyebutkan bahwa penggunaan produk dapat disesuaikan dengan rutinitas pemberian pakan di kolam budidaya.
Sebagai pembanding, kolam tanpa aplikasi Nano-Avibro dipanen pada hari ke-44 setelah dilaporkan mengalami indikasi gangguan kesehatan. Tingkat kelangsungan hidup pada kolam tersebut tercatat sekitar 68 persen, dengan biomassa 442,2 kilogram. Total bakteri Vibrio pada kolam yang mendapatkan aplikasi Nano-Avibro juga tercatat lebih rendah pada beberapa waktu pemeriksaan. Meski demikian, perbedaan waktu panen dan kondisi pemeliharaan membuat hasil tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati. Pengujian lanjutan dengan pengulangan kolam dan waktu pengamatan yang setara diperlukan untuk memastikan konsistensi manfaat Nano-Avibro serta memperjelas kontribusinya terhadap pengendalian risiko vibriosis.
Dari sisi operasional, teknisi budidaya menilai bentuk serbuk memudahkan penakaran dan pencampuran produk dengan pakan. Kemudahan aplikasi menjadi aspek penting karena teknologi yang dikembangkan untuk pembudidaya perlu mempertimbangkan efektivitas penerapan sekaligus kesesuaiannya dengan rutinitas kerja di lapangan. Melalui kolaborasi ini, FPIK UB dan CV Multi Benih Bali terus menyempurnakan penggunaan Nano-Avibro sebagai bagian dari manajemen kesehatan udang terpadu, dengan tetap memperhatikan kebutuhan validasi ilmiah sebelum manfaatnya dapat disimpulkan secara lebih luas.
Pengembangan Nano-Avibro juga memperlihatkan peluang pemanfaatan sumber daya laut menjadi produk inovatif yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatan tinta cumi sebagai bahan baku biostimulan merepresentasikan Sustainable Development Goal (SDG) 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pengembangan inovasi berbasis riset, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui eksplorasi pemanfaatan hasil perikanan untuk produk yang berpotensi bernilai ekonomi. Sementara itu, upaya mendukung kesehatan udang dan meningkatkan pengelolaan budidaya yang bertanggung jawab berkaitan dengan SDG 14: Ekosistem Lautan, khususnya dalam mendorong pemanfaatan sumber daya perairan secara berkelanjutan.
Melalui Program Dosen Berkarya, FPIK UB terus mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan sektor perikanan. Pengembangan Nano-Avibro menjadi salah satu upaya menghubungkan riset dengan praktik budidaya, sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan baku hasil laut untuk mendukung produktivitas dan pengelolaan kesehatan udang vaname secara lebih terintegrasi.
Editor : Redaksi