AS Desak Warga Israel segera Gelar Pemilu untuk Singkirkan Netanyahu

WASHINGTON- Pemimpin Mayoritas Senat Amerika Serikat (AS), Chuck Schumer, meminta Israel untuk dapat menyelenggarakan pemilu segera. Hal ini terjadi saat negara itu masih dalam perangnya melawan milisi Hamas di Gaza, Palestina.

Dalam pernyataannya, Schumer mengatakan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu "tidak lagi memenuhi kebutuhan Israel". Ia bahkan menyebut bahwa Netanyahu telah menjadi penghalang besar bagi perdamaian.

Baca Juga: Giliran Spanyol Laporkan Teroris Israel ke Mahkamah Internasional karena Lakukan Genosida

Schumer juga menegaskan kembali pandangannya bahwa Solusi Dua Negara antara Israel dan Palestina merupakan sesuatu yang terbaik bagi kedua negara. Ini bertentangan dengan sikap Netanyahu, yang seringkali menolak mengakui eksistensi Palestina.

"Sebagai negara demokrasi, Israel mempunyai hak untuk memilih pemimpinnya sendiri, dan kita harus membiarkan hal ini terjadi. Namun yang penting adalah bahwa Israel diberi pilihan. Perlu ada dinamika baru mengenai masa depan Israel setelah 7 Oktober," kata Schumer, yang juga politisi Partai Demokrat, dikutip Reuters, Sabtu (16/3/2024).

"Menurut saya, hal itu paling baik dilakukan dengan mengadakan pemilu," ujarnya.

Di sisi lain, ia juga mengkritik warga Palestina yang mendukung Hamas. Ia menambahkan bahwa pemimpin Palestina Mahmoud Abbas juga harus mundur dari jabatannya.

"Agar ada harapan perdamaian di masa depan, Abbas harus mundur dan digantikan oleh pemimpin Palestina generasi baru yang akan berupaya mencapai perdamaian dengan Negara Yahudi," kata Schumer.

Schumer dan tokoh Demokrat lainnya, termasuk Presiden Joe Biden, menghadapi kritik keras dari internal partai atas dukungan Washington terhadap Israel. Diketahui, AS terus memberikan beberapa bantuan terhadap Israel saat pemboman Tel Aviv di Gaza telah menewaskan 31 ribu warga sipil.

Baca Juga: Pengadilan Kriminal Internasional Perintahkan Penangkapan Netanyahu Bulan Depan

Pidato Schumer juga menekankan rasa frustrasi yang semakin besar di Washington terhadap Netanyahu, manajemen perangnya, perlindungan terhadap warga sipil Palestina, serta terkait terhambatnya pengiriman bantuan ke Gaza.

"(Netanyahu) terlalu bersedia untuk menoleransi korban sipil di Gaza, yang mendorong dukungan bagi Israel di seluruh dunia ke titik terendah dalam sejarah. Israel tidak dapat bertahan jika mereka menjadi paria," tambah Schumer.

Selain Schumer, pemerintahan Biden juga mulai melontarkan bola panas kepada Israel. Ini utamanya terkait rencana Tel Aviv untuk terus memperbanyak pemukiman Yahudi ilegal di Tepi Barat, Palestina.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyatakan kebijakan ini menjadi hambatan dari perdamaian. Sumber dari pemerintahan AS juga menyebut bila Israel terus melakukannya, Washington mempertimbangkan akan mencapnya sebagai 'tidak konsisten' dengan hukum internasional.

Baca Juga: Ngotot Perang, Netanyahu Tak Setujui Jeda Kemanusiaan

"Sudah menjadi kebijakan lama AS di bawah pemerintahan Partai Republik dan Demokrat bahwa permukiman baru adalah kontra-produktif untuk mencapai perdamaian abadi. Mereka juga tidak sejalan dengan hukum internasional," kata Blinken kepada wartawan akhir bulan lalu.

Sementara itu, mengenai pidato Schumer, Juru Bicara Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan pihak Schumer telah memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada Gedung Putih. Namun tidak ada pandangan setuju dan menolak dari kantor kepresidenan itu.

"Kami sepenuhnya menghormati haknya untuk menyampaikan pernyataan tersebut dan memutuskan sendiri apa yang akan dia katakan di Senat," kata Kirby kepada wartawan.bc

 

Editor : Redaksi

Berita Terbaru