KEDIRI (Realita) - The 2nd International Symposium On Cross Cultural Heritage Indonesia-Malaysia digelar di Hotel Grand Surya Kota Kediri, Senin, 5 Mei 2025.
Dalam kegiatan ini, Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati mengatakan, ini menjadi kehormatan bagi Kota Kediri karena perwakilan dari Malaysia berkunjung bahkan ada perwakilan dari Kerajaan Melaka.
Kota Kediri sendiri sudah berusia 1.146 dan menjadi Kota Tertua ke-tiga di Indonesia, dengan luas 67 km dan terdiri dari tiga kecamatan, 46 kelurahan serta memiliki pendudukn kurang lebih 300.000 jiwa.
Vinanda mengatakan, Kota Kediri memiliki julukan ‘Kota Pendidikan, Kota Santri, dan Kota Perdagangan’ sehingga Internasional Symposium nantinya tidak hanya membahas budaya tradisional dan pendidikan saja.
“Jika menyinggung tentang pertukaran budaya, kebetulan di Kota Kediri banyak pondok pesantren (Ponpes) sehingga dengan adanya kunjungan ini diharapkan saling bertukar tradisi keagamaan,” tutur Vinanda.
International Symposium ini mengangkat tema ‘Historical Perspective on the Relationship Between Javanese Civilization and the Malay Paninsula’.
Rektor UN PGRI Kediri, Zainal Afandi menjelaskan, International Symposium On Cross Cultural Heritage Indonesia-Malaysia bertujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai tradisi Indonesia, terutama tradisi Jawa.
Alasan mengusung tema tersebut, mengingat hubungan antara Indonesia-Malaysia sudah terjalin sejak zaman kerajaan.
Saat itu, kata Zainal, terjalin hubungan dagang terutama rempah-rempah dari Indonesia yang menjadi komoditi utama saat itu.
Dengan adanya praktik perdagangan Indonesia-Malaysia, terbentuk hubungan sosial dan pertukaran budaya serta hubungan ekonomi.
Sebelumnya, International Symposium sudah pernah dilaksanakan di Muzium Negeri Melaka, Malaysia pada Januari lalu dengan pembahasan tradisi antara negara.
Internasional Symposium yang kedua ini, kata Zainal, akan mengupas lebih jauh mengenai tradisi Jawa yang nantinya akan dibawa bahkan diterapkan di Malaysia.
“Salah satunya mengenai infrastruktur rumah Jawa, nantinya akan ada bangunan bahkan perumahan (perlampungan.red) dengan bentuk rumah Jawa di daerah Melaka, Malaysia,” jelasnya.
Dengan demikian, lanjutnya, dalam Internasional Symposium ini turut mengundang Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur dan Komisariat IAI Wilayah Kediri.
“Pembahasan budaya ini, karena setiap budaya di Indonesia cukup kompleks, terutama Budaya Jawa dengan alur yang sangat rinci sebelum memulai pembangunan,” tuturnya.
Sementara itu, Moh Nasarudin bin Rahman, Pengurus Besar Institut Warisan Melaka (Inswa) mengatakan, hubungan sejarah ini harus dibahas kembali dan nantinya diharapkan akan terus terjaga.
Tapak-tapak (jejak.red) warisan, kata Moh Nasarudin, perlu dijaga dan nantinya warisan negara ini bisa diterapkan untuk pariwisata.
“Warisan ini tidak hanya mengenai infrastruktur atau bangunan saja, tapi juga kuliner,” ujar Moh Nasarudin.
“Seperti yang dibahas sebelumnya, memang kami ingin membangun perkampungan Jawa di Melaka,” imbuhnya.
Hal ini lantaran, banyak masyarakat Jawa yang tinggal di Malaysia. Bahkan tradisi dan budaya Jawa juga diserap oleh warga sekitar, yakni Warga Negara Malaysia. (ADVDiskominfo/Kyo)
Editor : Redaksi