Terlempar Tanpa Pelampung, Teriak dan Baca Doa, Kesaksian Penumpang KMP Tunu Pratama Jaya

SURABAYA (Realita)- Imron (48) berjuang mati-matian bertahan hidup ketika terlempar dari KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam.

Imron, warga Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur awalnya tidak sempat pakai pelampung.

"Saya kurang tahu pasti jam berapa naik ke kapal. Yang jelas saat di kapal itu saya sempat chattingan dengan teman saya, memberi kabar bahwa saya sudah di kapal," ujarnya, Kamis (3/6/2025).

Namun tak berselang lama, ia merasakan kapal terombang-ambing ke kanan dan kiri.

Para kru kapal ia lihat berlarian, demikian penumpang yang berada di dalam ruangan terlihat keluar dan mengambil rompi pelampung. 

"Itu kejadiannya sekitar 10 sampai 15 menit sejak berangkat. Karena perasaan saya mulai tidak enak, saya langsung tutup ponsel. Tidak lama kemudian air masuk ke kapal," bebernya. 

Kerasnya gelombang air laut malam itu sempat menghempaskan Imron ke tiang kapal. Ia akhirnya terjatuh di laut, namun belum mendapatkan pelampung. 

"Tak lama kemudian saya lihat pelampung sekitar 4 meter dari saya, kemudian saya kejar. Agak kerepotan pakai pelampung di permukaan air. Berani tidak berani, saya memutuskan menyelam baru bisa pakai, dan ikat pelampung," katanya. 

Imron yang kelelahan setelah 30 menit mengejar pelampung, kemudian memutuskan istirahat sejenak.

Hingga tak lama ada perahu karet yang mendekat padanya. "Perahu itu kondisinya belum mengembang. Butuh waktu sejam hingga perahu benar-benar mengembang dan bisa dinaiki," imbuhnya. 

Setelah mengembang sepenuhnya, perahu karet itu selanjutnya diisi 16 orang. Satu di antaranya perempuan dan sisanya laki-laki. 

Kendati berhasil selamat dari kapal tenggelam, namun 16 orang tersebut harus bertahan terombang-ambing berjam-jam di lautan.  
"Saya teriak-teriak di tengah laut minta tolong dari atas kapal karet itu serta baca-baca doa," ujarnya. 

Imron tak menampik jika dirinya sempat merasa putus asa. Sebab pada malam itu, ombak di lautan cukup tinggi. 

"Saya pikir, bisa selamat dari kapal tenggelam tapi tidak bisa selamat dari ombak. Ombaknya besar, seandainya digulung ombak mungkin semuanya yang di atas perahu karet sudah terkapar," ucapnya. 

Menurut Imron, diperkirakan kapal itu tenggelam pukul 23.29 wib. Sedangkan ia mendapat pertolongan nelayan sekitar pukul 05.30 wita.

"Kalau dibilang trauma, pasti saya trauma naik kapal. Tapi mau bagaimanapun harus balik ke Banyuwangi naik kapal," tandas dia.rin

Editor : Redaksi

Berita Terbaru