Dari Dedaunan Jadi Karya, Perjuangan Ibu-Ibu Rejosari Mengangkat Batik Ecoprint

TULUNGAGUNG (Realita)– Di sebuah rumah sederhana di Desa Rejosari, Kecamatan Gondang, beberapa ibu tampak sibuk menata kain putih di atas meja panjang. Di tangannya, dedaunan jati, ketapang, hingga bunga-bunga liar yang dipetik dari sekitar desa disusun rapi, sebelum akhirnya dikukus menjadi motif alami batik ecoprint.

“Kalau cuma pakai alat seadanya, kadang hasilnya bagus, kadang juga kurang jelas. Jadi harus sabar, kadang seharian penuh baru selesai,” tutur Kanti Rahayu, Ketua PKK Rejosari, sambil menunjukkan kain hasil karyanya, Minggu (21/9/2025). 

Sejak lama, kelompok PKK Rejosari menjadikan batik ecoprint sebagai kegiatan kreatif untuk menambah penghasilan keluarga. Namun, keterbatasan alat konvensional membuat hasil produksi tidak konsisten. Pemasaran pun hanya sebatas mulut ke mulut atau acara desa.

Perjuangan itu mendapat titik terang ketika tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) hadir. Dipimpin Dr. Oksiana Jatiningsih, M.Si., tim ini membawa mesin steamer otomatis khusus batik ecoprint. Mesin itu dilengkapi pengatur suhu, timer, dan pemanas ganda yang mampu membuat hasil produksi lebih cepat, tajam, dan merata.

“Kami melihat semangat ibu-ibu PKK Rejosari luar biasa. Mereka hanya butuh sentuhan teknologi agar karya batiknya bisa lebih konsisten dan bernilai jual tinggi,” ujar Dr. Oksiana.

Tak hanya soal teknologi, tim Unesa juga mengajarkan strategi pemasaran digital. Ibu-ibu PKK yang sebelumnya hanya mengandalkan pasar lokal kini mulai belajar membuat konten promosi, memotret produk dengan baik, hingga memanfaatkan media sosial dan marketplace.

“Dulu kami bingung jualan lewat online. Sekarang sudah diajari cara membuat akun toko dan posting produk. Rasanya lebih percaya diri,” kata Kanti sambil tersenyum.

Program pendampingan ini bukan sekadar mengajarkan keterampilan, tetapi juga membuka harapan baru. Dengan produk yang lebih berkualitas dan pemasaran lebih luas, batik ecoprint Rejosari berpotensi menjadi unggulan desa.

“Harapan kami, batik ecoprint ini bukan hanya menambah penghasilan, tapi juga menjadi kebanggaan desa. Karena semua bahannya dari alam sekitar kita,” tambah Kanti.

Menurut Dr. Oksiana, program ini juga bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan dan penciptaan pekerjaan layak. “Ketika teknologi bertemu kearifan lokal, di situlah lahir produk yang berdaya saing sekaligus memperkuat identitas budaya,” ujarnya.

Bagi ibu-ibu PKK Rejosari, setiap helai kain ecoprint bukan sekadar karya seni, melainkan cerita tentang perjuangan, kebersamaan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.yudhi

Editor : Redaksi

Berita Terbaru