Pihak Pengusaha Air Minum di Depok Buka Suara Soal Tudingan Pencurian Ijazah

DEPOK (Realita) - Kasus dugaan pencurian ijazah yang dilaporkan oleh seorang pengusaha muda FA ke Polres Metro Depok memasuki babak baru.

Saat ini giliran terlapor alias pihak pengusaha air minum yang memberikan keterangan perihal kasus ini.

‎Melalui legal perusahaannya, Gagas Prakoso menerangkan jika apa yang disangkakan pelapor, FA kepada pimpinannya itu tidak benar.

Gagas juga membantah adanya dugaan pencurian ijazah, terlebih ini melebar hingga menyeret ke entitas perusahaan.

‎"Sesuai klausul dalam perjanjian, pemilik berhak meminta penyewa mengosongkan lahan jika terjadi wanprestasi. Teguran telah dilayangkan, namun tidak digubris dan yang sangat disayangkan hal ini menjadi melebar dengan mambawa-bawa entitas perusahaan milik pimpinan," ungkap Gagas, Senin (13/10/2025).

‎Gagas menerangkan, pemindahan barang dilakukan sesuai hak perdata berdasarkan kuasa pengosongan sebagaimana disepakati dalam perjanjian sewa dan seluruh barang-barang, dokumen.

Termasuk ijazah disimpan dengan rapi dan tidak ada yang hilang.

‎“Logikanya, untuk apa pemilik mencuri ijazah SMA? Semua dokumen itu masih ada dan bisa dibuktikan,” paparnya.

‎Sebelum melakukan pengosongan lahan, pihaknya juga sudah melayangkan somasi pertama dan terakhir kepada pelapor yang pada pokoknya meminta supaya pelapor segera mengosongkan barang-barang miliknya.

Hal tersebut sesuai jangka waktu yang ditentukan atas dasar berakhirnya perjanjian secara otomatis yang diakibatkan cidera janji (wanprestasi), tetapi hal itu tak diindahkan oleh pelapor FA.

‎"Somasi telah kita layangkan karena penyewa (pelapor) melakukan tindakan wanprestasi, sehingga kami berhak meminta pengosongan sebagaimana disepakati dalam perjanjian sewa karna perjanjian dianggap telah berakhir secara otomatis," ungkapnya.

‎Gagas juga menyayangkan klaim sepihak pelapor telah terjadi kesepakatan jual beli tanah yang disewa itu.

‎Ia pun menguraikan jika pada awalnya pelapor menyewa tanah beserta bangunan milik pimpinannya tersebut secara pribadi, bukan atas nama perusahaan.

Akan tetapi yang sangat disayangkan pemberitaan yang diangkat justru menyeret-nyeret entitas perusahaan.

‎Kedua belah pihak menandatangani perjanjian sewa dengan jangka waktu sepuluh tahun, sistem pembayaran tahunan, serta kesepakatan kenaikan harga setiap tahunnya.

‎"Tahun pertama dan kedua pembayaran lancar. Tapi memasuki tahun ketiga, penyewa mulai tidak menjalankan kewajibannya untuk membayar biaya sewa tanah tersebut,” jelasnya.

‎Sesuai klausul dalam perjanjian, pemilik berhak meminta penyewa mengosongkan lahan jika terjadi wanprestasi.

Teguran telah dilayangkan, namun tidak digubris hingga Desember 2023.

‎Di tengah proses itu, penyewa sempat mengajukan penawaran untuk membeli tanah. Namun harga yang ditawarkan tidak disepakati oleh pemilik.

‎Tak lama kemudian, penyewa mentransfer uang senilai Rp1 miliar dengan keterangan 'pembayaran tanah kerukut' tanpa kesepakatan resmi. Uang itu juga dikembalikan.

‎"Karna tidak ada perjanjian atau kesepakatan jual beli, transfer tersebut tidak bisa kami terima," ujarnya.

"‎Sehingga atas dasar ini, kami akan menempuh upaya hukum selanjutnya dengan melaporkan balik FA ke pihak kepolisian," tukasnya.

‎Sebelumnya, seorang pengusaha air minum di Kota Depok dilaporkan polisi atas dugaan kasus pencurian ijazah milik seorang pengusaha muda berinisial FA, yang bergerak di bidang properti.

‎Laporan tersebut telah masuk ke Polres Metro Depok dengan Nomor: LP/B/1768/X/2025/SPKT/POLRES METRO DEPOK/POLDA METRO JAYA pada Jumat, 3 Oktober 2025. hry

Editor : Redaksi

Berita Terbaru