KEDIRI (Realita) - Di saat banyak tempat makan berlomba masuk tren dan viral di media sosial, Soto Podjok di Jalan Dhoho justru berjalan dengan ritmenya sendiri. Tidak ramai sensasi, tapi nyaris tak pernah sepi bahkan sejak hampir satu abad lalu.
Didirikan pada 1926, warung soto ini kini telah memasuki generasi keempat. Dari Mbah Aminah sebagai perintis, dilanjutkan Mbah Rah, kemudian Rumiani Rahardjo, hingga kini dikelola oleh Nara Asoka Amijaya.
“Pasti ada tantangan, karena tiap generasi beda zaman dan beda cara melayani pelanggan. Tapi yang penting kita harus tetap adaptif,” ujar Nara.
Ia menyadari, tren kuliner viral bisa mendatangkan lonjakan pembeli dalam waktu singkat. Namun, ia memilih tidak memaksakan diri mengikuti arus tersebut dan tetap berpegang pada kekuatan utama: rasa dan pelayanan.
“Kalau mengejar viral, soto mau diapakan juga terbatas. Yang penting kualitas dan pelayanan dijaga supaya pelanggan bisa repeat order,” jelasnya.
Konsistensi itu dijaga melalui resep bumbu turun-temurun yang telah menjadi paten keluarga. Bahkan, bumbu diproduksi dalam jumlah besar untuk stok hingga enam bulan agar cita rasa tetap terjaga. “Bumbu itu kunci. Kalau inti rasanya sudah beres, ke depannya akan ikut beres,” kata Nara.
Perjalanan Soto Podjok bermula dari jualan keliling sebelum akhirnya menetap di kawasan Jalan Dhoho sekitar tahun 1960-an. “Dulu masih keliling, baru menetap di sini sekitar tahun 60-an. Nama Soto Podjok juga dari posisi tempat yang ada di pojok,” ungkapnya. Bahkan, plang bertuliskan Soto Podjok yang merupakan bawaan sejak awal berdiri masih tetap terpasang di pintu depan dan dirawat melalui peremajaan.
Kini, pelanggan datang dari berbagai usia, dari anak-anak hingga lansia.
“Dari balita sampai lansia ada. Bahkan ada yang bilang anaknya yang susah makan justru suka soto di sini,” tambah Nara. Di tengah tren kuliner yang datang dan pergi, Soto Podjok memilih tetap menjaga rasa dan dari situlah ia bertahan.nia
Editor : Redaksi