PONOROGO (Realita)- Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Ponorogo pada triwulan pertama tahun 2026 baru mencatatkan angka 25,97 persen.
Kendati demikian bila dibandingkan realisasi APBD tahun lalu di bulan yang sama yakni 22,32 persen, capaian realisasi triwulan I ini menunjukkan kenaikan.
Sedangkan realisasi serapan belanja daerah hingga maret lalu mencapai 17,48 persen atau naik dibandingkan realisasi belanja daerah pada triwulan I tahun anggaran 2025 yang hanya 16,22 persen. Angka ini mencakup belanja rutin (seperti gaji pegawai, tunjangan, operasional kantor, dan pemeliharaan rutin) yang sudah berjalan sejak Januari.
Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo Agus Sugiharto mengatakan, realisasi serapan APBD ini menyeluruh di semua sektor dari semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terkecuali sektor infrastruktur yang hingga kini masih nihil.
Ia mengakui bahwa sektor ini memang memerlukan tahapan-tahapan khusus yang menyebabkan pekerjaan fisik belum bisa dieksekusi secara masif di awal tahun.
“ Realisasi APBD di triwulan I sebesar 25,97%. Di banyak faktor sih itu, di hampir di seluruh OPD, kecuali memang di infrastruktur yang kemarin perlu tahapan,” ujarnya, Selasa (27/04/2026).
Menanggapi masih minimnya progres fisik tersebut, Ugin sapaan akrab Agus Sugiharto menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan percepatan. Evaluasi intensif kini dilakukan secara bulanan, bukan lagi menunggu akhir triwulan.
"Pasti akan kita evaluasi per bulan. Kemarin kan baru triwulan pertama, kita dorong melalui asistensi asisten untuk melakukan evaluasi koordinatif. Nanti per triwulan dan per bulannya kita lakukan evaluasi rencana kerja, baik sisi pendapatan maupun belanja untuk masing-masing OPD," ungkapnya.
Pihaknya optimis serapan realisasi APBD pada triwulan berikutnya menunjukkan kenaikan angka yang signifikan melihat capaian pada triwulan pertama yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
“ Saya yakin di triwulan 1 kan sudah positif ya dibandingkan tahun kemarin, mudah-mudahan ee di triwulan kedua lebih besar lagi,” klaim Ugin.
Diketahui sebelumnya, keterlambatan perbaikan jalan di Ponorogo dipicu berbagai macam faktor, selain faktor alam akibat hujan yang masih terjadi, lonjakan harga aspal yang mencapai 20 persen sejak awal April 2026 dari Rp11.600 menjadi Rp13.600 per kilogram memaksa Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) melakukan kalkulasi ulang terhadap seluruh Rencana Anggaran Biaya (RAB). Penyesuaian ini berdampak pada rasionalisasi target panjang perbaikan jalan agar tetap selaras dengan pagu anggaran yang tersedia.znl
Editor : Redaksi