MAGETAN – Kehadiran PLN di tengah masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan dan pelayanan kelistrikan, tetapi juga melalui komitmen memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Komitmen tersebut diwujudkan PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) melalui dukungan terhadap penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Sumbersawit, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Selasa (29/9). Kegiatan ini dihadiri Manajemen PLN UIT JBM, BPBD Kabupaten Magetan, Forkopimcam Sidorejo, perangkat desa, kader PKK, serta masyarakat Desa Sumbersawit.
Salah satu fokus dalam pelaksanaan program tersebut adalah meningkatkan keterlibatan perempuan sebagai bagian penting dari kekuatan masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Puluhan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Sumbersawit mendapatkan pelatihan dan edukasi mengenai kesiapsiagaan serta penanganan situasi darurat.
Bagi PLN UIT JBM, pemberdayaan perempuan dalam program kebencanaan tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai mitigasi bencana, tetapi juga mendorong perempuan untuk mengambil peran aktif dalam membangun ketangguhan keluarga dan komunitas.
Perempuan memiliki posisi strategis karena kesiapsiagaan bencana dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Peran tersebut antara lain mengenali potensi risiko di lingkungan sekitar, menyiapkan kebutuhan keluarga, menyampaikan informasi kebencanaan, hingga memastikan kebutuhan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas tetap menjadi perhatian saat kondisi darurat.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UIT JBM, Agustin Kusmawati, menyampaikan bahwa keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun kesiapsiagaan karena tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga dapat menjadi penggerak di lingkungan masyarakat. Mulai dari edukasi dan komunikasi keluarga, pendataan kebutuhan warga, pengelolaan dapur umum, penyediaan logistik, hingga memastikan kebutuhan khusus perempuan, anak, lansia, dan kelompok rentan tetap terpenuhi,” ungkap Agustin.
Menurut Agustin, melalui keterlibatan kader PKK, pengetahuan yang diperoleh dalam program Destana diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Kami berharap ilmu yang didapatkan hari ini tidak berhenti pada ibu-ibu yang hadir, tetapi dapat diteruskan melalui sharing knowledge kepada keluarga maupun ibu-ibu lainnya yang belum berkesempatan hadir. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesiapan ketika menghadapi kondisi darurat,” lanjut Agustin.
Penguatan kapasitas perempuan dalam program Destana menjadi semakin penting karena kesiapsiagaan bencana pada dasarnya dimulai dari tingkat keluarga. Kader PKK dapat menjadi penghubung antara edukasi kebencanaan, keluarga, dan lingkungan masyarakat, sehingga pesan mengenai mitigasi risiko dapat lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai mitigasi bencana, tetapi juga mengikuti simulasi tanggap darurat yang meliputi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penyediaan dapur umum, serta penanganan kebakaran skala kecil. Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai penyiapan tas siaga bencana sebagai langkah praktis dalam menghadapi kondisi darurat.
Keterlibatan perempuan dalam simulasi menjadi ruang pembelajaran bersama bahwa dalam situasi bencana, perempuan dapat mengambil berbagai peran penting, mulai dari koordinator kebutuhan keluarga, pengelola dapur umum, pengelolaan logistik, pendataan warga, hingga mendukung pemenuhan kebutuhan kelompok rentan.
Sekretaris BPBD Kabupaten Magetan, Ardian Hari Nugroho, menyampaikan bahwa ketangguhan menghadapi bencana membutuhkan kepedulian dan kesadaran bersama dari seluruh unsur masyarakat.
“Kunci dari ketangguhan kebencanaan adalah kepedulian, gotong royong, dan kesadaran kolektif dari warga. Terima kasih kepada PLN yang telah memberikan sarana dan prasarana dalam membangun kesiapsiagaan bencana di Desa Sumbersawit,” ungkap Ardian.
Senada dengan hal tersebut, Camat Sidorejo, Budi Andriana, mengapresiasi dukungan PLN UIT JBM dalam meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Sumbersawit.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada PLN UIT JBM yang telah memilih Desa Sumbersawit sebagai penerima bantuan TJSL. Desa ini memang memiliki potensi bencana yang lebih tinggi dibanding desa-desa lain di sekitarnya, sehingga bantuan PLN UIT JBM ini sudah tepat sasaran dan sangat berguna bagi warga kami,” ujar Budi.
General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, turut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi seluruh pihak dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, desa yang tangguh bencana membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, termasuk perempuan sebagai bagian penting dari kekuatan komunitas.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pelaksanaan simulasi saja, tetapi dapat menjadi bagian dari budaya kesiapsiagaan masyarakat Desa Sumbersawit. Keterlibatan perempuan melalui ibu-ibu PKK menjadi bagian penting karena ketangguhan masyarakat juga dibangun dari ketangguhan keluarga,” ungkap Ika.
Lebih lanjut, Ika berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui program ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara berkelanjutan.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Sumbersawit, seluruh stakeholder, dan masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan program ini. Semangat gotong royong dan kolaborasi antara PLN, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kekuatan penting untuk membangun desa yang semakin siap menghadapi risiko bencana dan mampu melindungi seluruh warganya, termasuk perempuan dan kelompok rentan,” pungkas Ika.
Melalui program Destana tersebut, PLN UIT JBM tidak hanya menghadirkan sarana dan edukasi kebencanaan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dari tingkat keluarga. Dengan perempuan dan kader PKK sebagai salah satu penggerak, kesiapsiagaan diharapkan tumbuh menjadi budaya bersama untuk mewujudkan Desa Sumbersawit yang lebih tangguh, inklusif, dan siap menghadapi risiko bencana. tyan
Editor : Redaksi